Pidato Lengkap Jokowi di Depan BI & Puluhan Bankir Top RI

Market - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
30 November 2022 17:05
Presiden Joko Widodo Saat Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2022. (Tangkapan Layar via Youtube Bank Indonesia) Foto: Presiden Joko Widodo Saat Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2022. (Tangkapan Layar via Youtube Bank Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Joko Widodo membuka pertemuan tahunan Bank Indonesia di Jakarta Convention Center (JCC), pada Rabu (30/11/2022). Dia mengungkapkan banyak negara 'pusing' menyambut tahun 2023 mendatang.

Dimana situasi global sulit diprediksi, hingga adanya ancaman resesi pada beberapa negara maju seperti di Uni Eropa dan Amerika Serikat.

Presiden juga mengingatkan potensi ekspor Indonesia yang bisa melemah karena China masih menerapkan aturan zero Covid, pelemahan ekonomi negara tujuan ekspor.

Acara ini diselenggarakan Bank Indonesia (BI), dihadiri oleh pejabat serta puluhan bankir top nasional.

Berikut pernyataan Presiden di Pertemuan Tahunan Bank Indonesia:

Dari pertemuan di G20 kemarin kita bertemu dengan seluruh kepala negara, negara-negara dengan GDP terbesar di dunia, dan saya menyimpulkan semua nya pusing.

Semuanya pusing bener, saya melihat kerutan wajah tambah semua, rambut tambah putih semua.

Dan memang situasi global saat ini confirm tidak pasti. Masih tidak pasti ruwet complicated, sulit dihitung sulit diprediksi, gak ada yang bisa menghitung dan memprediksi berada di angka berapa, gak jelas. Sehingga tadi semuanya pusing.

Misalnya 1 harga minyak siapa yang bisa tentukan?, saya tanya produsen minyak yang gede-gede gak bisa memprediksi. Dan akan di cap harga minyak lebih menyulitkan lagi ngitungnya seperti apa.

Oleh sebab itu 2023 betul-betul kita harus waspada saya setuju harus optimis tapi harus tetap hati-hati dan waspada. yang pertama itu ekspor indonesia tahun ini tahun lalu melompat jauh tapi hati-hati tahun depan bisa turun.

Karena problem di tiongkok yang belum selesai sehingga ekon mereka juga turun karena policy 0 covid.

Kemudian di UE (Uni Eropa) juga pelemahan ekonomi pasti resesi, kapan tinggal tunggu saja. Pelemahan ekonomi pasti di AS juga sama Fed fund Rate terus naik artinya ngerem pertumbuhan. Artinya ekonomi melemah ekspor ke sana gede banget. ekspor ke China itu gede banget, ke UE juga gede, oleh sebab itu hati-hati

Kedua berkaitan dengan investasi sekarang ini trust sudah kita dapat kepercayaan kita dapat. tapi policy yang diikuti implementasi di lapangan bisa dikerjakan atau tidak. trust udah dapat policy nya reformasi struktural UU Cipta Kerja sudah nanti keluar lagi, UU masih dalam proses industri keuangan nanti ada, nanti mungkin ada UU kesehatan yang juga akan masuk lagi semua itu mereformasi kita.

Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2022. (Tangkapan Layar via Youtube Bank Indonesia?Foto: Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2022. (Tangkapan Layar via Youtube Bank Indonesia?

Itu juga dilihat bahwa kita memang ingin membangun cara kerja baru, kita mau bangun mindset baru itu yang menimbulkan trust dan kepercayaan kita. tapi hati hati masih perlu policy yang kita reform dan perlu pelaksanaan di lapangan yang bener.

kembali ke investasi, tidak semudah tahun 2021 tidak semudah 2022 untuk nanti investasi di tahun depan.

Padahal tahun lalu target kita Rp 900 triliun tahun ini Rp 1.200 triliun Insya Allah dapat laporan Menteri Investasi tercapai. tapi tahun depan Rp 1400 triliun itu bukan angka yang kecil bukan angka kecil. Karena semua negara berebut investasi semua negara bersaing merebut investor.

sebab itu saya titip ke seluruh kementerian pada gubernur, pada, bupati, walikota jangan sampai ada yang mempersulit mengganggu capital inflow arus modal masuk dalam rangka arus investasi. Ini jadi kunci pertumbuhan ekon kita kenapa Q3 ini tumbuh 5,72% salah satu terdukung investasi yang tumbuh tapi tahun depan hati hati. tidak mudah Rp 1.400 triliun itu.

Yang ketiga berkaitan menjaga konsumsi Rumah Tangga, karena PDB Ekonomi kita ini sangat dipengaruhi besar sekali berkaitan dengan konsumsi. Ini harus sedikit kita rubah agar dari konsumsi bisa masuk ke produksi yang mempengaruhi.

Hati-hati pasokan pangan dan pasokan energi harus betul betul kita jaga. Agar konsumsi rumah tangga tetap tumbuh dengan baik sehingga growth kita akan sesuai dengan target yang telah kita buat.

Kembali ke investasi berkaitan dengan hilirisasi konsisten harus kita lakukan hilir nikel sudah masuk nanti ke bauksit timah tembaga nanti masuk lagi bahan mentah kita semua.

Saya berikan contoh Maluku Utara hati hati, jangan main-main karena pertumbuhan ekonomi di Maluku Utara 27% pertumbuhan ekonomi tinggi di dunia itu Maluku Utara coba cek provinsi 27% karena apa lompatan itu karena hilirisasi. di situ ada industri smelter ini akan tumbuh kalau disana tambah industri turunan nikel bisa dikerjakan di Maluku Utara. tapi hati-hati jangan menjadi tidak baik.

Di Maluku Utara itu waktu saya ke Ternate di pasar harga harga sangat stabil cek di BI inflasi di Maluku Utara 3,3%

Gimana gak seneng rakyat inflasi 3,3% pertumbuhan ekonomi 27% saya titip hati-hati jangan sampai salah policy nanti investasi sana jadi terhambat.

kalau sudah seperti itu ada survei semua provinsi di survei paling bahagia di Maluku Utara. karena ya angkanya jelas 27% growth, inflasi 3,3% karena mungkin gubernurnya nya ustad.

Artinya infrastruktur yang dibangun luar jawa memberi pengaruh besar pada titik pertumbuhan ekonomi baru di luar jawa infra yang dibangun nambah ekonomi. titik luar jawa nanti ada Mandalika itu titik pariwisata, Labuan Bajo kalau nanti sudah normal dan policy di NTT bener Labuan Bajo jadi titik pertumbuhan ekonomi baru di Morowali sama.

Dan tadi saya mendapat laporan investasi luar jawa lebih besar dari pulau jawa dulu 70:30 sekarang luar jawa 53%. ini lah keberhasilan pembangunan infra mempertemukan titik ekonomi baru menuju investasi luar Jawa.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bos BI: Kita Sedang Hadapi Kekacauan Global!


(emy/mij)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading