Rupiah Bisa Jatuh ke Rp16.000/ US$, Pengusaha Minta Ini ke BI

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
30 November 2022 07:00
Kesibukan aktivitas pembeli dan pedagang di Pasar Tradisional Kranji, Bekasi, Jawa Barat, Sabtu, 2/4. Jelang memasuki Ramadhan pada esok hari harga sayuran mengalami kenaikan. (Cnbc Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Ilustrasi pasar tradisional, Bekasi (Cnbc Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pelaku usaha mewanti-wanti efek kebijakan Bank Indonesia jika terus agresif menaikkan suku bunga acuan. Di mana saat rapat pada 16-17 November 2022, Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 50 bps menjadi 5,25%.

Langkah itu sebagai upaya Bank Indonesia menurunkan ekspektasi inflasi yang masih tinggi dan memastikan inflasi inti ke depan kembali ke dalam sasaran 3,0±1% lebih awal, yaitu ke paruh pertama 2023.

Ketua Komite Analis Kebijakan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Ajib Hamdani mengatakan, selain mengendalikan inflasi, keputusan bank sentral tersebut ampuh menjaga laju pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Di mana per Selasa (29/11/2022) rupiah ditutup melemah ke Rp15.740 per dolar AS. 

Menurut Ajib, merosotnya nilai tukar rupiah bisa jika lebih parah jika Bank Indonesia tidak menaikkan suku bunga acuan. Hanya saja, imbuh dia, jika semakin agresif, langkah Bank Indonesia berpotensi memicu efek negatif.

"Kenaikan suku bunga BI secara 4 bulan redakan inflasi iya, tapi risiko membuat pelemahan daya beli masyarakat," katanya kepada CNBC Indonesia, dikutip Rabu (30/11/22).

Akibatnya, kata dia, perekonomian di dalam negeri akan semakin melemah alias tertekan. Meski, tambah Ajib, hal itu memicu dilema karena menyangkut tingkat inflasi. 

"Bagaimana dunia usaha? Yang lebih dikhawatirkan dunia usaha, bagaimana bisa sustain. PDB lebih dari 60% ditopang konsumsi, jadi bagaimana menjaga daya beli masyarakat ini tetap ada," sebut Ajib.

Karena itu, dia menambahkan, meski rupiah akan terus merosot sampai Rp16.000 per dolar AS mungkin tidak akan memicu efek negatif terlalu besar.

"Proyeksi dolar Rp 16.000/US$ tertutupi dengan baik jika daya beli masyarakat baik," ujarnya.

Sementara itu, pemerintah sendiri sepertinya sudah bersiap jika rupiah semakin merosot. Terbukti, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengaku tak pusing jika rupiah akhirnya harus melemah hingga Rp 16.000 per dolar AS.

Menurut dia, ini karena pelemahan terhadap rupiah yang terus terjadi bukan disebabkan fundamental ekonomi Indonesia yang buruk.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Sri Mulyani: Ada Inflasi yang Tak Bisa Dikendalikan


(hsy/hsy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading