Internasional

Ini Arti Simbol Kertas Putih dalam Demo Massal di China

News - luc, CNBC Indonesia
29 November 2022 11:25
Para pengunjuk rasa mengangkat selembar kertas putih menentang pembatasan gerak akibat penyebaran virus corona (COVID-19) di Beijing, Sabtu (27/11/2022). Protes tersebut terjadi usai kebakaran yang terjadi pada 24 November 2022 di Urumqi, ibu kota wilayah Xinjiang China barat laut yang menimbukan kemarahan publik yang menyalahkan penguncian akibat virus corona karena menghambat upaya penyelamatan. Aksi demo di China termasuk kejadian yang cukup langka, yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak Xi Jinping mengambil alih kekuasaan satu dekade lalu. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images) Foto: Para pengunjuk rasa mengangkat selembar kertas putih menentang pembatasan gerak akibat penyebaran virus corona (COVID-19) di Beijing, Sabtu (27/11/2022). Protes tersebut terjadi usai kebakaran yang terjadi pada 24 November 2022 di Urumqi, ibu kota wilayah Xinjiang China barat laut yang menimbukan kemarahan publik yang menyalahkan penguncian akibat virus corona karena menghambat upaya penyelamatan. Aksi demo di China termasuk kejadian yang cukup langka, yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak Xi Jinping mengambil alih kekuasaan satu dekade lalu. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejak jelang akhir pekan lalu, China diguncang gelombang demonstrasi di sejumlah kota menolak kebijakan penguncian ketat (lockdown) sebagai bagian dari kebijakan nol-Covid.

Dalam aksi yang masih berlangsung hingga saat ini tersebut, para demonstran kompak mengangkat kertas putih sambil berteriak menyerukan tuntutannya.

Dilansir Newsweek, Selasa (29/11/2022), lembaran kertas putih kosong adalah simbol pembangkangan untuk menentang kebijakan pemerintah yang berkukuh dengan kebijakan nol-Covid serta mengekang perbedaan pendapat.

Gerakan itu dimulai dengan peringatan untuk 10 korban yang tewas pada 24 November dalam kebakaran apartemen di Urumqi, Xinjiang, wilayah barat laut tempat penduduknya tinggal dalam keadaan terkunci selama lebih dari 3 bulan. Pembatasan pergerakan disebut justru menyebabkan penyelamatan korban terlambat dan menyebabkan kematian.

Demonstrasi damai selama tiga hari mencapai puncaknya di kota-kota besar seperti Shanghai pada Minggu, ketika penduduk yang berduka atas tragedi itu bentrok dengan polisi berseragam yang dikirim untuk memulihkan ketertiban.

Pada saat itu, gelombang protes publik telah menjadi lebih dari sekadar aturan nol-Covid di China dengan berkembang pada kritik terhadap pengawasan dan penyensoran pemerintah yang berlebihan.

Sambil memegang kertas kosong di atas kepala mereka, pengunjuk rasa mengisyaratkan keluhan yang tersebar luas yang dibagikan oleh orang lain.

Tren kertas putih menjadi populer di kalangan pengunjuk rasa di Hong Kong pada 2020, setelah kota tersebut menerapkan undang-undang keamanan nasional yang samar-samar dan menyeluruh yang disahkan oleh Beijing beberapa hari sebelumnya. Selama akhir pekan, komunitas diaspora China di Twitter dan di tempat lain menyebutnya sebagai "Revolusi Kertas Putih", atau "Revolusi Kertas A4", berdasarkan ukuran kertas.

Kebijakan nol-Covid yang menjadi pangkal protes memang telah dikritik habis-habisan oleh publik China. Namun, Presiden Xi Jinping memilih untuk melakukan penyensoran secara ketat hingga berujung penangkapan.

Yang jelas, kebijakan tersebut telah terlihat nyata dampaknya ke ekonomi Negeri Tirai Bambu yang terus menurun.

Kertas putih juga mewakili respons ironis terhadap makin berkurangnya ruang ketidaksepakatan di bawah Xi, yang telah membangun aparat keamanan besar yang mencakup jaringan pengawasan di seluruh kota untuk memantau pergerakan offline, dan algoritma komputer yang secara otomatis menyaring kata-kata sensitif dan gambar viral dari obrolan online. Semua ini membuat aksi kolektif sulit untuk disusun, apalagi diorganisir.

Mereka yang berharap untuk mengkritik pemerintah secara terbuka pasti beralih ke cara kreatif karena tidak adanya saluran yang sah untuk menyuarakan ketidakbahagiaan mereka. Pembagian poster protes secara anonim melalui fitur AirDrop iPhone Apple dan grafiti di toilet umum, di mana tidak ada kamera, adalah beberapa upaya baru-baru ini.

Upaya ini pun mulai digelorakan di kampus-kampus. Di Universitas Peking yang bergengsi, misalnya, muncul sebuah surat terbuka meminta pemerintah untuk membatalkan kontrol Covid termasuk pengujian massal, karantina terpusat, penguncian di seluruh distrik, dan aplikasi kesehatan pelacakan pergerakan.

Di Tsinghua, almamater Xi, para mahasiswa berkumpul untuk menyerukan "demokrasi, supremasi hukum, dan kebebasan berekspresi", sebuah tanda bahwa demonstrasi hanyalah sarana untuk mengekspresikan ketidakpuasan yang lebih luas terhadap tata kelola domestik Beijing.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Covid Masih 'Gila', China Perpanjang Lockdown Chengdu


(luc/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading