Internasional

Fans Putin "Menggila", Serukan Genosida-Likuidasi Ukraina

News - sef, CNBC Indonesia
25 November 2022 16:35
Russian President Vladimir Putin and Defence Minister Sergei Shoigu walk after a military parade on Victory Day, which marks the 77th anniversary of the victory over Nazi Germany in World War Two, in Red Square in central Moscow, Russia May 9, 2022. REUTERS/Maxim Shemetov Foto: REUTERS/MAXIM SHEMETOV

Jakarta, CNBC Indonesia - Pendukung Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan banyak menggunakan "retorika genosida" ketika mendiskusikan orang-orang Ukraina. Beberapa komentator bahkan mendukung "likuidasi" negara sesama mantan Uni Soviet itu.

Mengutip CNBC Interntional, kelompok ultranasionalis telah meningkat di Rusia sejak serangan Kremlin dimulai 24 Februari. Pengamat terkenal, mulai dari blogger militer, jurnalis, politisi dan pejabat, yang tergabung dalam faksi nasionalis telah berulang kali menyerukan agar Rusia mengadopsi pendekatan tanpa ampun ke Ukraina.

Menurut laporan Institute for the Study of War (ISW) memang penggunaan bahasa keras ke Ukraina makin meluas. Ini setidaknya terungkap dari catatan lembaga itu pekan ini.

"Retorika memusnahkan dan tidak manusiawi, menyerukan dilakukannya perang genosida terhadap negara Ukraina dan rakyatnya, telah merasuki di tingkat tertinggi arus utama politik Rusia," kata ISW, dikutip Jumat (25/11/2022).

"Seperti yang dilaporkan ISW sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin juga menggunakan bahasa genosida dengan cara yang pada dasarnya tidak sesuai dengan seruan untuk negosiasi," tambah lembaga itu.

Beberapa mempromosikan penggunaan senjata nuklir. Sementara yang lainnya menganjurkannya pemusnahan total.

Salah satunya adalah mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev. Di Telegram, sekutu Putin itu memiliki lebih dari 900.000 pengikut.

"Retorika yang dia gunakan untuk mencirikan Ukraina ... menjadi semakin tidak manusiawi," tulis CNBC International.

"Minggu ini dia mencirikan pejabat dalam pemerintahan Kyiv sebagai 'kecoak', karena mereka ingin merebut kembali Krimea, (semenanjung Ukraina yang dianeksasi secara ilegal oleh Rusia pada tahun 2014) . Sementara dia juga menggunakan istilah 'babi yang mendengus' pada awal November," tambahya.

Hal sama juga dikatakan pro Kremlin lain, Andrey Medvedev. Ia adalah seorang anggota parlemen di Moskow dengan pengikut 150.000 di Telegram.

"Saya telah berulang kali mengatakan bahwa, pada umumnya, negara Ukraina tidak ada. Itu adalah orientasi politik," katanya.

"Untuk menjadi 'Ukraina' seseorang bahkan tidak harus berbicara bahasa Ukraina (yang juga masih dibentuk). Orang Ukraina adalah orang Rusia yang telah diyakinkan bahwa mereka adalah orang Rusia yang istimewa, lebih Eropa, lebih murni secara rasial, dan lebih benar," klaimnya.

"Semua ini hanya dapat dihentikan melalui 'likuidasi' kenegaraan Ukraina dalam bentuknya yang sekarang," tegasnya lagi.

Beberapa juga dilaporkan menyebut Ukraina sebagai "jahat", "sadis" dan pemuja setan. Itu setidaknya dikatakan blogger Ilya Varlamov, dengan pengikut 360.000 di Telegram, dan Vladen Tatarsky, yang memiliki 500.000 pengikut.

"Babi setan penggerutu," kata Varlamov.

"Tidak mungkin untuk bernegosiasi dengan Setan, dia mengambil semuanya tanpa jejak," kata Tatarsky.

Menurut rekan di Foreign Policy Research Institute, Max Hess, tak dipungkiri retorika merbau genosida memang nyata dalam komentar-komentar tokoh-tokoh publik Rusia. Tapi, yang perlu diperhatikan, seberapa banyak hal itu didorong pemerintah.

"Kremlin benar-benar mendukung banyak retorika ini," katanya.

Itu bukan hanya di blog atau di saluran media sosial Kremlin, itu di museum negara, itu dalam retorika di acara bincang-bincang utama negara. Jadi benar-benar sedang terjadi di mana-mana," tambahnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Rusia Mulai Menang di Ukraina? Ini Fakta-Faktanya


(sef/sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading