Internasional

Kesaksian Warga Moskow, Sudah Lelah dengan Aksi Putin

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
24 November 2022 22:00
Seorang aktivis berpartisipasi dalam protes tanpa izin di Arbat Street 21 September 2022 di Moskow, Rusia. (AP/Alexander Zemlianichenko) Foto: Seorang aktivis berpartisipasi dalam protes tanpa izin di Arbat Street 21 September 2022 di Moskow, Rusia. (AP/Alexander Zemlianichenko)

Jakarta, CNBC Indonesia - Situasi di Rusia tak lagi sama pascaoperasi militer Presiden Vladimir Putin ke Ukraina. Kini, November dan Desember disebut-sebut akan menjadi bulan paling menyedihkan di Moskow.

"Suasana di Moskow dan pedesaan sekarang sangat suram, sunyi, terintimidasi, dan tanpa harapan," kata Lisa (34), warga Moskow yang berprofesi sebagai produser film, mengutip CNN Internasional, Kamis (24/11/2022).

"Cakrawala perencanaan serendah sebelumnya. Orang-orang tidak tahu apa yang mungkin terjadi besok atau dalam setahun."

Kehidupan Rusia disebut tak lagi sama. Serangan mendadak Putin ke Ukraina menyebabkan sanksi besar-besaran dari Barat yang membuat ekonomi negara jatuh. Tak heran jika banyak sekali toko-toko tutup di banyak jalan ibu kota.

Meski rak-rak di sebagian besar toko tetap terisi dengan baik, produk-produk Barat menjadi semakin langka dan sangat mahal. Naiknya harga membuat banyak rumah tangga Rusia kesulitan bertahan hidup.

"Barang-barang familiar menghilang, mulai dari tisu toilet dan Coca-Cola, diakhiri dengan pakaian," kata Lisa. "Tentu saja, kamu bisa terbiasa dengan semua ini, ini sama sekali bukan yang terburuk."

Lisa juga mengecam pemerintah Barat dan perusahaan yang telah meninggalkan pasar Rusia sebagai tanggapan atas serangan Ukraina. "Saya tidak begitu tahu bagaimana ini membantu menyelesaikan konflik, karena itu memengaruhi orang biasa, bukan mereka yang mengambil keputusan," kata Lisa.

Beberapa ekonom percaya Rusia akan menghadapi kesulitan ekonomi yang semakin besar dan populasi yang akan semakin kritis terhadap operasi militer khusus di tengah kekalahan pasukan Kremlin di beberapa wilayah Ukraina.

Sergey Javoronkov, seorang peneliti senior di Gaidar Institute for Economic Policy, mengatakan suasana sudah lebih kritis daripada sebelumnya.

"Ini berkat harga ekonomi dan ketidakpuasan dengan tugas yang tidak terselesaikan, bertentangan dengan ekspektasi yang diciptakan oleh Kremlin," katanya.

"Kami seharusnya menang. Pejabat berjanji untuk merebut Kyiv dalam tiga hari, tetapi, seperti yang kita lihat, itu ternyata bodoh," jelasnya.

"Dalam pidatonya tanggal 24 Februari, (Presiden Rusia) Vladimir Putin menyatakan bahwa operasi militer hanya akan dilakukan oleh pasukan profesional. Tetapi pada bulan September mobilisasi parsial diumumkan, juga tindakan yang tidak populer. Mereka yang tidak ingin berperang sedang direkrut."

"Ini adalah efek yang diketahui: kemenangan perang yang singkat dapat membangkitkan antusiasme, tetapi jika perang berlangsung tanpa akhir dan tidak mengarah pada hasil yang diinginkan, maka kekecewaan akan datang," tutupnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Rusia Kalang Kabut, Jenderal-Jenderal Putin Mau Membelot


(luc/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading