Internasional

Boris Johnson: Jerman Ingin Ukraina Menyerah ke Rusia

News - sef, CNBC Indonesia
24 November 2022 11:06
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berjalan di Downing Street, di London, Inggris, 6 Juli 2022. (REUTERS/John Sibley) Foto: Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berjalan di Downing Street, di London, Inggris, 6 Juli 2022. (REUTERS/John Sibley)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Jerman disebut ingin Ukraina menyerah dengan cepat ke Rusia. Hal ini terungkap dari wawancara mantan perdana menteri (PM) Inggris, Boris Johnson dengan CNN Portugal yang terbit awal pekan ini.

Dikutip Newsweek, Johnson mengklaim Berlin ingin situasi diselesaikan "secepatnya ketika kelompok taktis batalion Rusia berkumpul". Ini menjelang serangan Rusia ke Ukraina pada 24 Februari lalu.

"Saya akan memberi tahu Anda hal yang mengerikan, pandangan Jerman pada satu tahap," katanya dikutip Kamis (24/11/2022).

"Bahwa jika itu akan terjadi, yang akan menjadi bencana, maka akan lebih baik semuanya berakhir dengan cepat dan untuk Ukraina," tambahnya.

"Saya tidak dapat mendukung itu. Saya pikir itu adalah cara pandang yang membawa malapetaka. Tetapi saya dapat memahami mengapa mereka berpikir dan merasakan seperti yang mereka lakukan," tegasnya lagi.

Johnson juga melontarkan kata-kata tajam untuk Prancis dan Italia. Ia mengklaim penyangkalan akan serangan terus dilakukan negeri itu.

"Saya ingat orang Italia lagi ... sangat bergantung pada hidrokarbon Rusia. Pada satu masa mereka hanya mengatakan bahwa mereka tidak akan dapat mendukung posisi yang kami ambil," katanya lagi.

Sementara itu, Rusia dilaporkan Masih terus menyerang Ukraina. Rabu, pasukan Presiden Vladimir Putin menembakkan 65 rudal lagi ke bangunan tempat tinggal dan stasiun energi.

Dalam pembaruan operasional, Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina mengatakan pasukan pertahanan negara itu menembak jatuh 51 dari 65 rudal jelajah Kh-101. Semuanya ditembakkan ke ibu kota Kyiv, serta wilayah Vinnytsia, Lviv, dan Zaporizhzhia.

"Pada siang hari, penjajah Rusia melakukan serangan besar-besaran pada objek infrastruktur energi Ukraina," katanya.

Serangan itu, disebut salah satu serangan paling 'mengganggu' yang dialami Ukraina dalam beberapa minggu terakhir. Ini telah kembali memutus aliran listrik ke Kyiv dan daerah lain.

Wakil kepala kantor kepresidenan Ukraina, membenarkan adanya serangan baru terhadap "fasilitas infrastruktur penting di beberapa wilayah". Di sisi lain, Energoatom, perusahaan tenaga nuklir nasional Ukraina, melaporkan pembangkit listrik terbesar Eropa Zaporizhzhia, kini memasuki "mode pemadaman total" di tengah gencarnya penembakan Rusia.

Kemarin, pihak berwenang mengatakan bahwa salah satu roket Rusia menghantam bangsal bersalin di sebuah rumah sakit di kota Vilniansk. Hal ini membunuh seorang anak laki-laki yang baru lahir dan melukai ibunya.

"Musuh sekali lagi memutuskan untuk mencoba mencapai dengan teror dan membunuh apa yang tidak dapat dia capai selama 9 bulan dan tidak akan dapat dicapai," tulis Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Telegram.

"Sebaliknya, dia hanya akan dimintai pertanggungjawaban atas semua kejahatan yang dia bawa ke negara kita," ujarnya.

Anggota parlemen Ukraina Lesia Vasylenko mengklaim bahwa serangan itu menewaskan total tujuh orang. Sementara itu sebanyak 34 orang juga terluka.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Boris Johnson Mundur, Kremlin: Itu 'Karma' Dukung Ukraina


(sef/sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading