Internasional

Ekonomi Global Melambat, Wilayah Ini yang Paling 'Berdarah'

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
23 November 2022 06:20
Protestors attend a demonstration in Paris as part of a nationwide day of strike and protests for higher wages and against requisitions at refineries in France, October 18, 2022. The slogan reads Foto: REUTERS/BENOIT TESSIER

Jakarta, CNBC Indonesia - Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mengatakan Eropa akan menjadi blok yang paling terpukul akibat perlambatan ekonomi global.

OECD pada Selasa (22/11/2022) menyatakan pertumbuhan ekonomi dunia akan melambat dari 3,1% tahun ini menjadi 2,2% tahun depan sebelum meningkat menjadi 2,7% pada 2024. Data ini sedikit naik dari perkiraan 2022.

"Skenario utama kami bukanlah resesi global, tetapi perlambatan pertumbuhan yang signifikan bagi ekonomi dunia pada 2023, serta inflasi yang masih tinggi, meski menurun, di banyak negara," kata penjabat kepala ekonom OECD Alvaro Santos Pereira dalam laporan ekonomi terbaru, melansir Reuters.

OECD mengatakan perlambatan global memukul ekonomi secara tidak merata, di mana Eropa menanggung beban terberat karena perang Rusia di Ukraina memberikan dampak buruk pada aktivitas bisnis dan mendorong lonjakan harga energi.

Diperkirakan ekonomi zona euro akan melambat dari pertumbuhan 3,3% tahun ini menjadi 0,5% pada 2023 sebelum pulih untuk tumbuh sebesar 1,4% pada 2024.

Data terbaru sedikit lebih baik daripada prospek terakhir OECD pada September, ketika pertumbuhan 3,1% diperkirakan untuk tahun ini dan 0,3% pada tahun 2023.

OECD memperkirakan kontraksi 0,3% tahun depan di kelas berat regional Jerman, yang ekonominya didorong oleh industri sangat bergantung pada ekspor energi Rusia, kurang dari penurunan 0,7% yang diperkirakan pada September.

Sementara untuk ekonomi Prancis, yang tidak begitu bergantung pada energi Rusia, diperkirakan akan tumbuh 0,6% tahun depan. Italia terlihat mengalami pertumbuhan 0,2%, yang berarti beberapa kontraksi triwulanan kemungkinan terjadi.

Di luar zona euro, ekonomi Inggris terlihat menyusut 0,4% tahun depan karena bersaing dengan kenaikan suku bunga, harga yang melonjak, dan kepercayaan yang lemah. Sebelumnya, OECD memperkirakan pertumbuhan Inggris 0,2%.

Berdasarkan data tersebut, organisasi ini terus mendesak bank sentral untuk terus menaikkan suku bunga, agar ekonomi global dapat menghindari resesi tahun depan.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Jurang Resesi Makin Dekat! Ini Bukti Barunya...


(luc/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading