Internasional

'Perang Dingin' di KTT G20 Bali, Ramai-Ramai Musuhi Rusia?

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
15 November 2022 10:50
Russian Foreign Minister Sergei Lavrov attends the first working session of the G20 leaders' summit in Bali, Indonesia, November 15, 2022.  REUTERS/Kevin Lamarque/Pool Foto: REUTERS/KEVIN LAMARQUE

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan diplomatik dilaporkan mulai muncul dalam gelaran KTT G20 di Bali. Negara-negara Barat disebutkan mulai membentuk 'kekuatan' untuk memaksa Rusia menghentikan serangan militernya di Ukraina.

Dilaporkan Reuters, pemimpin negara yang kontra kebijakan Presiden Rusia Vladimir Putin akan menyalahkan perang Moskow  sebagai dasar dari kekacauan ekonomi global. Serangan ke Ukraina menyakiti bumi secara global.

"Setiap rumah tangga di planet ini merasakan dampak dari perang Putin," kata para pejabat Inggris meninjau pernyataan Perdana Menteri Rishi Sunak yang dikutip AFP, Selasa, (15/11/2022).

Tak hanya Barat, China dilaporkan akan mulai melontarkan pernyataan yang meminta agar senjata nuklir tidak digunakan dalam perang di Ukraina. Diketahui, sebelumnya Putin telah melontarkan sinyal penggunaan senjata berbahaya itu dalam perang dengan tetangganya.

"Presiden Xi Jinping menyuarakan penentangan terhadap penggunaan ancaman dan senjata nuklir di Ukraina," menurut laporan Gedung Putih tentang pertemuan dengan Presiden AS Joe Biden.

Putin sendiri memutuskan untuk absen dari KTT G20. Ia menyerahkan mandat kepala delegasi kepada Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia, Sergei Lavrov.

Serupa, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang juga diundang dalam forum itu tidak hadir secara fisik. Zelensky sendiri sebelumnya menolak berkomunikasi dengan Rusia bila masih dipimpin Putin.

Analis menganggap bahwa dengan absennya dua kepala negara yang berperang ini, belum akan timbul langkah konkret menuju perdamaian dalam forum KTT G20 meski Barat telah membentuk kekuatan.

Apalagi, anggota G20 seperti India, Turki, Afrika Selatan (Afsel), dan India secara khusus menghindar dari kritik terhadap Moskow.

"Jika semua kekuatan Barat ingin meremehkan Rusia di Bali, mereka akan menemukan bahwa banyak rekan non-Barat tidak akan ikut bermain," jelas peneliti International Crisis Group, Richard Gowan, kepada AFP.

Indonesia selaku tuan rumah masih berharap bahwa KTT dapat mengarah pada pernyataan bersama. Nantinya, diharapkan negara besar termasuk Barat dan Rusia dapat menyepakati jalan ke depan.

"Negosiasi hampir tercapai, tetapi kami tidak dapat menjanjikan apa pun," kata seorang pejabat senior Indonesia seraya menambahkan bahwa isu perang tetap menjadi poin krusial.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Menkeu-Bank Sentral G20 Kumpul di AS Bahas Ancaman Mengerikan


(sef/sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading