'Badai Datang', 900 Orang Buruh Tekstil di Jawa Barat Di-PHK

News - Damiana Cut Emeria, CNBC Indonesia
20 October 2022 11:40
Pekerja menyelesaikan proses sablon baju di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan, Senin (6/12/2021).  Harga kapas acuan dunia berhasil melesat hingga level tertingginya dalam satu dekade terakhir, karena beberapa faktor yang mempengaruhinya. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto) Foto: Pekerja menyelesaikan proses sablon baju di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan, Senin (6/12/2021). Harga kapas acuan dunia berhasil melesat hingga level tertingginya dalam satu dekade terakhir, karena beberapa faktor yang mempengaruhinya. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemutusan hubungan kerja (PHK) kini mulai muncul ke permukaan. Jika sebelumnya pengusaha mengakui PHK yang terjadi masih sekedar 'riak', kini gelombangnya tak lagi terbendung.

Seperti yang terjadi di pabrik Kahatex, yang berlokasi di Sumedang, Jawa Barat.

Sekjen Asosiasi Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengungkapkan, Kahatex adalah perusahaan produsen tekstil dan produk tekstil (TPT) anggota APSyFI.

"Iya, anggota APSyFI. Jualannya seret (hingga memicu PHK). Minggu kemarin PHK 900 orang. Kahatex saja. Akan nambah terus kayanya," kata Redma kepada CNBC Indonesia, Kamis (20/10/2022).

Sebelumnya, Redma memang sudah mewanti-wanti potensi gelombang PHK di industri TPT nasional. Apalagi, ujarnya, pemerintah pun sudah memperingatkan kondisi  gelap yang mengancam perekonomian di tahun 2023 akibat 'badai' resesi global.

Sinyal itu, kata dia, terlihat dari pengurangan dan pembatalan order secara beruntun. Khususnya oleh buyer/ pembeli di negara-negara yang kini mengalami resesi (teknikal) dan hiperinflasi seperti AS dan Uni Eropa.

"Industri ini tengah menghadapi 'pukulan' serupa seperti saat pandemi Covid-19 merebak. Memang, di kuartal pertama kemarin kita masih tumbuh. Tapi kemudian anjlok lagi dan ini nggak ada tanda-tanda bakal pulih segera. Harapan kita di kuartal pertama tahun 2023 bisa ada sinyal positif," kata Redma.


Redma mengungkapkan, industri TPT di dalam negeri terpukul akibat banyaknya pembatalan dan pemangkasan order ekspor. Sementara, pasar di dalam negeri juga tidak banyak membantu karena daya beli masih lemah.

Terjadi penumpukan stok di pabrik, hingga memaksa perusahaan memangkas produksi. Akibatnya, kata dia, kini marak perusahaan TPT di dalam negeri merumahkan karyawannya.

"Anggota APSyFI sudah sekitar 1500-an orang yang dirumahkan. Kalau informasi dari API (Asosiasi Pertekstilan Indonesia), yang dirumahkan sekitar 43.000 orang," ungkap Redma.

"Kalau anggota APSyFI yang sudah info PHK hanya Kahatex. Kalau SPV sudah full stop, karyawan dirumahkan, IBR jalan tinggal 1 line, Indorama pun stop 2 line. Yang lain udah kurang produksi 30%," kata Redma.

Perusahaan-perusahaan anggota APSyFI adalah produsen serat/ rayon, yang juga memasok produksinya ke pasar ekspor. Diantaranya ada yang sekitar 25% produksi dijual ke pasar ekspor.

"Sementara, pasar lokal sangat parah," kata Redma.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ternyata Bukan PHK, Bisnis Ini Mulai Tanda-Tanda 'Goyang'


(dce/dce)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading