Upah 2023 Naik 13%? Pengusaha Ngaku Empot-Empotan!

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
10 October 2022 16:15
Aksi demo buruh dari KSPI dan partai buruh di depan kantor Balaikota, Jakarta, Rabu, 20/7. Buruh meminta Gubernur Anies untuk melakukan banding terhadap putusan PTUN yang menurunkan nilai UMP DKI Jakarta tahun 2022 dari Rp4.641.854 menjadi Rp4.573.845. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Aksi demo buruh dari KSPI dan partai buruh di depan kantor Balaikota, Jakarta, Rabu, 20/7. Buruh meminta Gubernur Anies untuk melakukan banding terhadap putusan PTUN yang menurunkan nilai UMP DKI Jakarta tahun 2022 dari Rp4.641.854 menjadi Rp4.573.845. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kalangan pengusaha sudah mengetahui adanya tuntutan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2023 sebesar 13% dari buruh. Namun, angka tersebut dinilai terlalu besar dan tidak masuk akal di situasi saat ini. Apalagi setelah adanya kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) sejak awal bulan lalu.

"Sulit lah, sulit. Jangankan 13%, sekarang aja udah empot-empotan (susah) lagi. Kenaikan BBM terdampak juga, semua naik, bahan baku naik, mau ga mau harga pokok juga naik," kata Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Apindo DKI Jakarta Nurjaman kepada CNBC Indonesia, Senin (10/10/22).

Ketika menghadapi kenaikan biaya modal, belum tentu produk akhirnya pun laku terjual. Imbas kenaikan harga BBM, daya beli masyarakat cenderung menurun. Terlihat dari serapan belanja masyarakat yang semakin irit dalam kehidupan sehari-hari.

Meski demikian, Nurjaman tidak mempermasalahkan tuntutan para buruh. Ia menyarankan kenaikan gaji bergantung pada kemampuan dari masing-masing perusahaan.

"Minta sih boleh saja, jangankan 13%, lebih dari itu pun boleh. Tapi siapa yang siap? Siapa yang mau kasih? Karena kenaikan BBM dan sebagainya kan permintaan, sah-sah aja," katanya.

"UMP kan udah ada takarannya, upah kan bipartit di masing-masing perusahaan, jadi mikro di situ. Kalau UMP kan makro, kalau semua ditarik ke UMP salah besar," lanjutnya.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja menuntut kenaikan upah minimum sebesar 13% akibat lonjakan inflasi. Sebelum kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), inflasi diperkirakan 4,9%. Setelah kenaikan BBM, inflasi diperkirakan akan tembus di angka 7-8%. Dengan ekspektasi pemerintah berkisar 6,5-7%.

"Ambil angka 7% dan pertumbuhan ekonomi katakanlah 4,8%. Jika inflasi dan pertumbuhan ekonomi dijumlah, totalnya 11,8%. Ini yang seharusnya menjadi dasar kenaikan upah. Pembulatan yang diminta adalah kenaikan upah 13%," ujar Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KEPI) Said Iqbal dalam keterangan pers.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Buruh Tuntut Upah Naik 13%, Pengusaha Tekstil 'Nangis'


(hoi/hoi)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading