Internasional

Inflasi Prancis Melandai Jadi 5,6%, tapi 'Badai' Belum Usai

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
30 September 2022 15:05
Para pengunjuk rasa mengibarkan bendera Prancis di jalan Champs-Elysees saat mobil berparade selama Foto: Para pengunjuk rasa mengibarkan bendera Prancis di jalan Champs-Elysees saat mobil berparade selama "Convoi de la liberte" (Konvoi Kebebasan), sebuah konvoi kendaraan untuk memprotes vaksin COVID-19 dan pembatasan di Paris, Prancis, Sabtu (12/2/2022). (REUTERS/Benoit Tessier)

Jakarta, CNBC Indonesia - Inflasi Prancis pada September 2022 tercatat sebesar 5,6% secara tahunan (year-on-year/yoy), turun dari bulan sebelumnya sebesar 5,9%.

Berdasarkan data pendahuluan yang dirilis INSEE, Jumat (30/9/2022), estimasi inflasi ini menjadi yang terendah sejak Mei lalu. Catatan tersebut juga lebih rendah dari proyeksi para ekonom sebesar 5,9%.

Adapun, kenaikan harga energi melandai dari 22,7% menjadi 17,8%. Begitu juga dengan jasa yang kenaikannya melandai dari 3,9% menjadi 3,2%.

Sementara itu, secara bulanan (month-to-month/mtm) terjadi deflasi sebesar 0,5%, berbalik dari inflasi 0,5% mtm pada Agustus 2022. Deflasi itu pun mematahkan ekspektasi para ekonom yang memproyeksikan deflasi 0,1%.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Prancis Bruno Le Maire mengatakan pengendalian inflasi adalah prioritas utama untuk anggaran 2023.

"Pertarungan melawan inflasi adalah prioritas terbesar," katanya saat mempresentasikan RUU anggaran 2023," dikutip dari Reuters.

"Tantangan paling penting dan paling mendesak bagi Prancis dan negara-negara Eropa lainnya adalah menurunkan tekanan inflasi," tambahnya.

Kementerian mengatakan telah menganggarkan 45 miliar euro tahun depan untuk membatasi kenaikan harga gas dan listrik sebesar 15%, meskipun pungutan khusus pada perusahaan energi diperkirakan akan membawa biaya bersih menjadi 12 miliar euro, lebih rendah dari 16 miliar euro sebelum ditandai.

"Ketidakpastian tidak pernah lebih besar tentang prospek ekonomi untuk tahun depan karena perang di Ukraina terus berkecamuk dan langkah Rusia tetap tidak dapat diprediksi," kata Le Maire.

Perlambatan ekonomi di mitra ekonomi utama Prancis, yakni Amerika Serikat (AS), Jerman dan China, semakin mengaburkan perlambatan tersebut.

"Gerakan politik di Eropa juga dapat berdampak pada zona euro," tambah Le Maire.

Kementerian Keuangan memperkirakan awal bulan ini bahwa ekonomi akan tumbuh 2,7% tahun ini sebelum melambat menjadi 1% tahun depan. Sementara bank sentral memperkirakan kenaikan paling baik 0,8% tahun depan.

Meskipun terjadi perlambatan, kementerian mengharapkan untuk dapat menjaga defisit anggaran sektor publik tetap stabil tahun depan pada 5% dari output ekonomi. Ini membuat keuangan publik sesuai target berada dalam pagu yang diberlakukan UE pada tahun 2027.

Sementara pemerintah Prancis memperkirakan bahwa utang publik akan berkisar di sekitar 111,5% dari PDB hingga 2026 sebelum turun kembali.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Inflasi Prancis Pecah Rekor Lagi, Tertinggi Sejak 1985


(luc/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading