Bikin Shock! Inikah Negara yang Diramal Jokowi Ambruk?

News - Tim Redaksi, CNBC Indonesia
30 September 2022 13:25
Presiden Joko Widodo saat meninjau di pabrik aspal PT Wika Bitumen, Kabupaten Buton, pada Selasa, 27 September 2022. (Foto: Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden) Foto: Presiden Joko Widodo saat meninjau di pabrik aspal PT Wika Bitumen, Kabupaten Buton, pada Selasa, 27 September 2022. (Foto: Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis global yang telah dipicu oleh pandemi Covid-19 dalam lebih dari 2 tahun terakhir dan konflik geopolitik yang 'dimotori' Rusia dan Ukraina telah berdampak luas pada sejumlah negara.

Melonjaknya harga energi dan pangan membuat inflasi terus meroket di sejumlah negara. Hal tersebut memaksa bank sentral untuk memperketat kebijakan moneternya.

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi global cenderung masih melambat sehingga pengetatan kebijakan bank sentral di sejumlah negara menjadi seusatu yang tak terhindarkan, sekaligus meningkatkan risiko resesi.

Setidaknya, ada beberapa negara yang ekonominya berada di ujung tanduk, ditandai dengan inflasi yang tinggi hingga utang yang membengkak. Mulai dari Turki, Argentina, Bangladesh, Pakistan, Jerman, Inggris, hingga Amerika Serikat.

Turki misalnya, menjadi salah satu negara yang terus mengukir rekor inflasi. Pada Agustus 2022 80,21% secara year-on-year (yoy), naik dari bulan sebelumnya sebesar 79,6% yoy.

Berdasarkan data dari Turkish Statistical Institute, inflasi tersebut menjadi yang tertinggi sejak September 1998 dan menandai kenaikan selama 15 bulan berturut-turut.

Sementara itu, Argentina juga menjadi salah satu negara yang mencetak inflasi selangit. Inflasi diperkirakan akan mencapai 95% menurut jejak pendapat bulanan yang diterbitkan pada Jumat oleh bank sentral.

Adapun negara seperti Bangladesh, juga kini masih dipusingkan akibat tingginya utang di tengah terbatasnya cadangan devisa. Bahkan, negara ini disebut-sebut berpeluang besar mengikuti jejak Sri Lanka yang belum lama ini dinyatakan pailit.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebelumnya mengatakan bahwa krisis yang saat ini dialami dunia nyata. Dunia menghadapi persoalan yang berat, dan bertubi-tubi.

Jokowi mengaku mendapatkan informasi dari sejumlah lembaga internasional seperti IMF, World Bank, hingga UN PBB. Lembaga tersebut memperkirakan akan ada 60 negara yang ambruk akibat krisis.

"60 negara akan ambruk ekonominya, 42 dipastikan sudah menuju ke sana. Siapa yang membantu mereka kalau sudah 42? Mungkin kalau satu, dua, tiga negara krisis bisa dibantu," jelas Jokowi beberapa waktu lalu.

"Tapi kalau 42, dan betul bisa mencapai 60, kita enggak ngerti apa yang bisa kita lakukan. Sehingga berjaga-jaga, waspada, hati-hati adalah hal yang sangat kita perlukan," tegasnya.

Jokowi kemudian mencontohkan banyak negara yang sudah kesulitan akibat krisis yang melanda. Bahkan, ada beberapa negara yang kondisinya cukup memprihatinkan karena krisis yang disebabkan perang.

"Ada negara yang tidak ada cadangan devisa, tidak bisa beli BBM. Tidak ada cadangan devisa, tidak bisa beli pangan, tidak bisa impor karena energi impor semua. Kemudian terjebak juga pada pinjaman utang yang sangat tinggi karena debt rasio terlalu tinggi. Jadi sekali lagi, ngeri saya kalau lihat angka-angkanya," tegasnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

28 Negara Antre Jadi Pasien, Siapa Paling Parah 'Sakitnya'?


(cha/cha)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading