APBN Kita Agustus 2022

Sri Mulyani Senyum, Setoran Pajak Tinggi Lagi

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
26 September 2022 18:15
Menteri Keuangan Sri Mulyani Saat Konferensi Pers APBN KITA September 2022. (Tangkapan Layar via Youtube Kemenkeu) Foto: Menteri Keuangan Sri Mulyani Saat Konferensi Pers APBN KITA September 2022. (Tangkapan Layar via Youtube Kemenkeu)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan semringah karena penerimaan pajak per 31 Agustus 2023 mencatatkan pertumbuhan yang positif.

Sri Mulyani mencatat penerimaan pajak telah mencapai Rp 1.171,8 triliun pada Agustus 2022. Penerimaan ini telah mencapai 78,9% dari target.

"Ini sudah melampaui sebelum pre-pandemi, yaitu 2019. Kenaikan pajak 58,1% dibandingkan tahun sebelumnya," ungkap Sri Mulyani dalam APBN Kita Agustus, Senin (26/9/2022).

Sri Mulyani mengungkapkan PPh non-migas telah mencapai Rp 661,5 triliun atau 88,3% dari target. 

Adapun, setoran PPN sebesar Rp 441,6 triliun atau 69% dari target. Sementara itu, PBB tercatat Rp 13,2 triliun atau 40% dari target dan PPh migas Rp 55,4 triliun atau 85,6% dari target.

Menurut Sri Mulyani, kinerja penerimaan pajak yang sangat baik pada periode Januari hingga Agustus dipengaruhi oleh 4 hal.

"Penerimaan pajak tahun ini acceptional karena kita menghadapi boom komoditas. Ini seperti pedang bermata dua, penerimaan meningkat tinggi namun inflasi dan produk-produk pangan dan energi mengalami tekanan," ungkapnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Saat Konferensi Pers APBN KITA September 2022. (Tangkapan Layar via Youtube Kemenkeu)Foto: Menteri Keuangan Sri Mulyani Saat Konferensi Pers APBN KITA September 2022. (Tangkapan Layar via Youtube Kemenkeu)
Menteri Keuangan Sri Mulyani Saat Konferensi Pers APBN KITA September 2022. (Tangkapan Layar via Youtube Kemenkeu)

Kedua, ada faktor pertumbuhan ekonomi yang ekspansif. Dia melihat banyak dunia usaha yang mulai pulih sehingga banyak insentif yang dihentikan dan ini memulihkan pajak.

"Faktor penyumbang penerimaan pajak tinggi yang perekonomian kita makin pulih dan kuat."

Ketiga adalah faktor basis pertumbuhan yang rendah pada 2021, akibat penyaluran insentif fiskal selama pandemi. Faktor keempat, katanya, adalah pelaksanaan UU HPP yang membantu pemerintah mengumpulkan penerimaan lebih baik.

Namun, Sri Mulyani mengingatkan bahwa pemerintah tetap hati-hati karena kondisi ekonomi global dan indikatornya perlu diwaspadai.

"Berapa lama ekonomi dunia diperkirakan melemah, pasti akan rembes dan memberikan dampak ke dalam negeri dan akan mempengaruhi penerimaan pajak kita," tegasnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Tax Amnesty II Banyak Diikuti Karyawan, Hartanya Miliaran


(haa/haa)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading