Heboh Polandia Protes, Mampukah RI Pasok Batu Bara ke Eropa?

News - Verda Nano Setiawan, CNBC Indonesia
20 September 2022 21:17
Coal piles are seen at a warehouse of the Trypillian thermal power plant, owned by Ukrainian state-run energy company Centrenergo, in Kiev region, Ukraine November 23, 2017. Picture taken November 23, 2017. REUTERS/Valentyn Ogirenko Foto: REUTERS/Valentyn Ogirenko

Jakarta, CNBC Indonesia - Pengiriman batu bara asal Indonesia ke Polandia yang dikabarkan bermasalah karena tidak sesuai dengan spesifikasi kini semakin menarik perhatian publik. Terutama, mengenai kualitas batu bara yang dimiliki perusahaan tambang asal Indonesia.

Dengan kejadian ini, yang menjadi pertanyaan adalah apakah Indonesia mampu memasok batu bara ke pasar Eropa di tengah potensi ceruk pasar yang terbuka lebar? Sebab, pada umumnya negara di Eropa kebanyakan menggunakan batu bara dengan kalori tinggi.

Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi dan Batu Bara Indonesia (Aspebindo) Anggawira mengatakan, dari segi cadangan Indonesia sebenarnya masih memiliki sumber daya batu bara dengan kualitas kalori tinggi. Namun demikian, untuk memproduksikan jenis tersebut memerlukan manajemen jangka panjang terkait ketersediaan suplai dan rantai pasoknya.

"Saya rasa keberadaan dan kondisi cuaca yang mempengaruhi kualitas batu bara. Ini kan membuat kalori turun. Menurut pandangan saya, ketika barang akan dikirimkan sudah ada sertifikasi dari surveyor yang disepakati yang tertera di dalam kontrak, saya rasa ini missed lah," kata dia dalam acara Mining Zone CNBC Indonesia, Selasa (20/9/2022).

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia menilai Eropa sendiri rata-rata memang mempunyai spesifikasi batu bara dengan kalori tinggi. Sementara batu bara kalori tinggi yang dimiliki Indonesia tidaklah begitu banyak.

Ditambah lagi, krisis energi akibat perang Rusia Ukraina membuat negara-negara tersebut mau tak mau harus mencari alternatif batu bara dari tempat lain, salah satunya yakni berasal dari Indonesia.

"Jadi dari sisi pembelajaran kualitas yang mereka dapatkan, menurut informasi kasarnya satu pengiriman bermasalah ini ada lumpurnya juga ada material lain. kualitas nya kata pihak supplier ini punya spek yang dipenuhi jadi ada masalah kontrol yang menjadi pelajaran kita," ujarnya.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif sebelumnya juga telah angkat bicara mengenai ekspor batu bara ke Polandia yang kabarnya bermasalah.

"Aku baru dengar, barangkali pada waktu mau pengapalannya nggak diperiksa lagi kali. Tapi kan harusnya kalau buat kualitas ekspor kan harusnya dijaga kualitasnya. Kalau benar," katanya di Kementerian ESDM Jakarta, Senin (19/9/2022).

Menurut Arifin semestinya proses pengiriman batu bara ke Polandia mendapatkan penjagaan di awal, sehingga dapat meminimalisir adanya kejadian tersebut. Apalagi ini merupakan pengiriman batu bara pertama ke Polandia.

"Makanya harusnya dijaga, dari awal barang mau dikirim, barangnya kaya apa, harusnya di receiving depan sana juga ada orang atau ada yang ikutin jadi bisa verifikasi nya betul,".

Dari informasi yang diterima oleh CNBC Indonesia sebelumnya, kualitas dan spesifikasi batu bara yang dikirim ke Polandia itu tidak sesuai dengan yang disepakati. Di mana, dari informasi tersebut Polandia melakukan impor batu bara ke Indonesia sekitar 70 ribu sampai 100 ribuan ton.

"Tidak sesuai dengan spek yang disepakati oleh pihak buyer. Kualitas batu bara yang datang ke Polandia jauh dari yang disepakati. Dan ini menjadi isu besar di Polandia. Karena isinya tak hanya batu bara banyak campuran lumpurnya juga," kata sumber kepada CNBC Indonesia, Senin (19/9/2022).

Belum diketahui, jenis atau kalori batu bara yang diminta oleh pihak Polandia dan berapa kalori yang dikirimkan oleh eksportir batu bara dari Indonesia.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Heboh Polandia Dapat 'Zonk' Batu Bara dari RI, Ini Sebabnya..


(wia)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading