Internasional

Suram, Fitch Pangkas Proyeksi Ekonomi Global Jadi Segini

News - luc, CNBC Indonesia
16 September 2022 06:20
fitch ratings Foto: Reuters/Reinhard Krause

Jakarta, CNBC Indonesia - Jelang kuartal pemungkas pada 2022, prospek ekonomi global tak kunjung membaik. krisis gas Eropa, inflasi yang tinggi, dan percepatan tajam dalam laju pengetatan kebijakan moneter global berdampak besar pada hal tersebut.

Alhasil, lembaga pemeringkat Fitch Ratings dalam Global Economic Outlook (GEO) September 2022 memangkas proyeksi PDB global secara signifikan pada tahun ini.

Fitch memproyeksikan PDB global akan tumbuh sebesar 2,4% pada 2022 - direvisi turun 0,5 poin persentase sejak GEO Juni - dan hanya 1,7% pada 2023, pemotongan hingga 1 poin persentase.

Zona euro dan Inggris pun diperkirakan memasuki resesi akhir tahun ini dan Fitch memproyeksikan bahwa AS akan mengalami resesi ringan pada pertengahan 2023.

Fitch memperkirakan ekonomi zona euro berkontraksi sebesar 0,1% pada 2023 - penurunan 2,2 poin persentase sejak Juni yang mencerminkan dampak krisis gas alam.

Sementara itu, Fitch memperkirakan pertumbuhan AS sebesar 1,7% pada 2022 dan 0,5% pada tahun 2023, direvisi turun masing-masing sebesar 1,2 poin persentase dan 1 poin persentase.

Di China, pembatasan pandemi Covid-19 dan kemerosotan properti yang berkepanjangan membuat proyeksi pertumbuhan PDB turun 0,9 poin persentase menjadi 2,8% tahun ini dan akan pulih menjadi 4,5% pada tahun depan.

"Kami mengalami 'badai' yang sempurna untuk ekonomi global dalam beberapa bulan terakhir, dengan krisis gas di Eropa, percepatan tajam dalam kenaikan suku bunga dan kemerosotan properti yang semakin dalam di China," kata Brian Coulton, Kepala Ekonom Fitch, dikutip Jumat (16/9/2022).

Adapun, proyeksi saat ini mengasumsikan penutupan penuh atau hampir sepenuhnya dari pipa gas Rusia ke Eropa. Terlepas dari upaya UE untuk menemukan alternatif, total pasokan gas UE akan turun secara signifikan dalam waktu dekat, dengan dampak yang dirasakan melalui rantai pasokan industri.

Dampak dari sisi pasokan ini akan diperburuk jika penjatahan menjadi perlu untuk menghindari kekurangan gas, risiko utama di Jerman.

Harga gas dan listrik grosir Eropa pun telah meningkat hampir sepuluh kali lipat karena krisis. Pass-through tanpa batas ke harga gas dan listrik eceran dapat berdampak besar pada inflasi.

Sebagai ilustrasi, tulis Fitch, kenaikan tiga sampai empat kali lipat dalam harga gas dan listrik eceran akan menambah lebih dari 15 poin persentase ke inflasi. Di sisi lain, langkah-langkah dukungan dari pemerintah dapat menimbulkan biaya fiskal yang signifikan.

Inflasi yang tinggi dan persisten, ekspektasi inflasi jangka pendek yang meningkat, dan pasar tenaga kerja yang ketat telah mendorong The Fed, Bank of England (BOE) dan ECB untuk berubah lebih hawkish dalam beberapa bulan terakhir. Tingkat kebijakan meningkat jauh lebih cepat dari yang diharapkan.

The Fed sekarang diperkirakan akan menaikkan suku bunga menjadi 4% pada akhir tahun dan menahannya hingga 2023, tingkat refinancing ECB diperkirakan akan naik menjadi 2% pada bulan Desember, dan suku bunga bank BOE diperkirakan mencapai 3,25% pada Februari 2023.

Berbeda dengan peran pelonggaran kuantitatif dalam pandemi, kebijakan bank sentral tidak lagi mendukung pelonggaran fiskal untuk melindungi rumah tangga dan perusahaan dari guncangan ekonomi. Dengan kondisi likuiditas yang makin ketat, pelonggaran fiskal skala besar dapat mendorong kenaikan suku bunga riil jangka panjang.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

WTO Beri Peringatan Baru Soal Ekonomi Global, Apa Tuh?


(luc/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading