Internasional

Inflasi Inggris 'Sukses' Patahkan Ekspektasi Negatif, tapi..

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
14 September 2022 15:02
The Union Jack flag flies above the Houses of Parliament from the Victoria Tower in London, Thursday, Sept. 12, 2019. The British government insisted Thursday that its forecast of food and medicine shortages, gridlock at ports and riots in the streets after a no-deal Brexit is an avoidable worst-case scenario. (AP Photo/Alastair Grant) Foto: Inggris (AP Photo/Alastair Grant)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks harga konsumen Inggris pada bulan Agustus 2022 masih mencatatkan inflasi 9,9% secara year-on-year (yoy). Hal ini terjadi saat harga pangan di negara itu naik karena krisis biaya hidup terus berlanjut.

Angka ini sendiri sedikit di bawah konsensus para ekonom yang disurvei Reuters sebesar 10,2%. Angka ini juga turun dari bulan sebelumnya sebesar 10,1% yoy.

Untuk inflasi inti, yang tidak termasuk harga bergejolak, tercatat 0,8% secara bulan ke bulan (month-to-moth/mtm) dan 6,3% yoy.

"Penurunan harga bahan bakar motor memberikan kontribusi penurunan terbesar terhadap perubahan tingkat inflasi tahunan CPIH dan CPI antara Juli dan Agustus 2022," kata Kantor Statistik Nasional (ONS) dalam laporannya, Rabu (14/9/2022).

Adapun, Inggris telah dilanda krisis biaya hidup bersejarah tahun ini karena harga makanan dan energi yang meroket. Hal ini juga diakibatkan gagalnya kenaikan upah untuk mengimbangi lonjakan harga ini.

Pekan lalu, Perdana Menteri (PM) baru Liz Truss berencana menerapkan subsidi energi untuk membatasi tagihan energi rumah tangga tahunan di angka 2.500 pound atau Rp 42,7 juta per tahun.

Langkah ini dilakukan setelah Otoritas energi Inggris Ofgem berencana untuk menaikan tarif batas atas listrik rumah tangga pada Oktober mendatang hingga 3.549 pound atau Rp 60,7 juta setahun. Padahal, sebelumnya tarif batas atas hanya menyentuh angka 1.971 pound atau Rp 33,7 juta.

Untuk memuluskan hal ini, Truss akan menebar bantuan hingga 100 miliar pound atau setara Rp 1.700 triliun. Bantuan ini nantinya akan mengkompensasi harga gas dan bahan bakar lainnya yang dibayarkan perusahaan energi untuk menghasilkan tenaga listrik.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Fakta-Fakta Krisis Gawat di Inggris, Ada Krisis Biaya Hidup


(luc/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading