Sri Mulyani Mulai Ketar-ketir, Khawatir Indonesia Kena Apes!

News - Tim Redaksi, CNBC Indonesia
06 September 2022 11:20
Menteri Keuangan Sri Mulyani di  Konferensi Pers Presiden Jokowi dan Menteri Terkait perihal Pengalihan Subsidi BBM, 3 Sep 2022. (Tangkapan Layar Youtube) Foto: Menteri Keuangan Sri Mulyani di Konferensi Pers Presiden Jokowi dan Menteri Terkait perihal Pengalihan Subsidi BBM, 3 Sep 2022. (Tangkapan Layar Youtube)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mulai ketar-ketir dalam menghadapi perkembangan dunia yang makin tak pasti. Bahkan, guncangan yang saat ini terjadi jauh lebih hebat dibandingkan pada awal tahun.

Berbicara dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Agustus, Sri Mulyani menyebut ketidakpastian ekonomi dunia yang makin merajalela tak lepas dari keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS)/The Federal Reserve yang menaikkan bunga acuan.

"Cenderung meningkat dibandingkan periode awal 2022," kata Sri Mulyani, dikutip Selasa (6/9/2022)

Sri Mulyani mengatakan, kenaikan suku bunga secara langsung akan memengaruhi pergerakan dolar terhadap sejumlah mata uang. Situasi ini membuat mata uang negara berkembang seperti rupiah tidak berdaya.

"Mata uang emerging market menjadi relatif melemah dibandingkan dolar index-nya. Outflow terjadi di seluruh emerging market," katanya.

Bahkan, berdasarkan catatan Sri Mulyani, total dana asing yang keluar dari negara berkembang termasuk Indonesia mencapai lebih dari US$ 25 juta.

"Total capital outflow terjadi sejak pertengahan semester satu, pada Mei-Juni dan berlanjut Juli dan Agustus ini," kata bendahara negara.

Sebelumnya, Sri Mulyani juga mengaku bahwa Indonesia tidak boleh terlena meskipun saat ini kondisinya masih jauh lebih baik ketimbang negara-negara lain. "Karena guncangan ini bukan hal yang sepele. Ini adalah guncangan yang luar biasa tinggi," imbuhnya.

Sri Mulyani menegaskan, guncangan yang dimaksud adalah risiko kenaikan inflasi yang sudah terjadi di beberapa negara maju. Bahkan, bendahara negara memperkirakan inflasi di negara maju akan tetap bertahan di atas 6% pada tahun ini.

"Di negara berkembang, inflasinya diperkirakan mencapai 9,5%. Jadi inflasi makin tinggi, pertumbuhan makin melemah. Ini kombinasi yang tidak baik bagi lingkungan ekonomi global yang harus kita waspadai bisa memengaruhi perekonomian Indonesia," jelasnya.

Sri Mulyani lantas merujuk pada laporan terbaru yang dipublikasikan Dana Moneter Internasional (IMF). Dalam laporan tersebut, pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun ini diproyeksikan turun menjadi 3,2% dan berlanjut pada 2023 menjadi 2,9%.

"Ini sebuah revisi yang bahkan sudah diberikan warning mungkin akan mengalami revisi lagi ke bawah apabila semester kedua ini akan mengalami terjadinya tren pemburukan terutama di sisi inflasi dan respon kebijakannya," kata Sri Mulyani.

Sri Mulyani mencontohkan bagaimana China yang masih berstatus ekonomi terbesar kedua diramal akan mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi tahun ini hingga hanya 3,3%. Sementara tahun depan, ekonomi China hanya diproyeksikan tumbuh 4,4%.

"Indonesia tumbuh 5,4% atau koreksi 0,1%, dan tahun depan 5,2%. Meskipun proyeksi terlihat baik tidak boleh terlena dan Indonesia harus tetap waspada," pungkasnya.

Artikel Selanjutnya

Duh! Sri Mulyani Beberkan 3 Kengerian Baru, Ancam RI?


(cha/cha)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading