Internasional

Vladimir Putin: AS Ingin Perang di Ukraina Berkepanjangan

News - Intan Rakhmayanti Dewi, CNBC Indonesia
17 August 2022 08:42
Pemerintah Rusia pimpinan Presiden Vladimir Putin (Getty Images/Contributor) Foto: Pemerintah Rusia pimpinan Presiden Vladimir Putin (Getty Images/Contributor)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Rusia Vladimir Putin tegas mengecam Amerika Serikat (AS) dan Barat. Ia mengatakan bahwa Amerika ingin memperpanjang perang di Ukraina.

"Situasi di Ukraina menunjukkan bahwa AS sedang berusaha untuk memperpanjang konflik ini," katanya dalam pidato sambutan di sebuah konferensi di Moskow, kantor berita negara Rusia Interfax melaporkan, dikutip CNBC International, Rabu (17/8/2022).

Putin juga mengeklaim bahwa AS berusaha mempertahankan status hegemoninya di dunia, dan Barat ingin memperluas "sistem blok" pertahanannya, seperti aliansi militer NATO ke Asia.


"Kami juga melihat bahwa Barat secara kolektif berusaha untuk memperluas sistem bloknya ke kawasan Asia-Pasifik seperti halnya NATO di Eropa. Untuk tujuan ini, aliansi militer-politik sedang dibentuk, seperti AUKUS dan lainnya," klaim Putin, merujuk pada pakta keamanan trilateral antara Australia, Inggris, dan AS yang ditandatangani tahun lalu.

Selain itu, dia mengatakan kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi baru-baru ini ke Taiwan, yang membuat marah sekutu Rusia, China, telah menjadi provokasi yang direncanakan secara menyeluruh.

Putin mengatakan bahwa perjalanan "sembrono" seperti itu adalah bagian dari strategi Amerika Serikat yang dengan sadar dilakukan dan memiliki tujuan untuk mengacaukan situasi di kawasan dan dunia

"Sebuah demonstrasi kurang ajar yang tidak menghormati kedaulatan negara lain dan kewajiban internasionalnya," kata Putin.

Sementara itu, Putin kembali membenarkan serangan tak beralasan yang dilakukan Moskow ke Ukraina. Ia mengklaim invasi itu dilakukan "untuk memastikan keamanan Rusia dan warga kami."

Rusia mengklaim serangan gencarnya di Ukraina yang disebutnya "operasi militer khusus" bertujuan untuk membebaskan wilayah-wilayah yang memisahkan diri dan pro-Rusia di Donbas di Ukraina timur yang telah didukungnya sejak 2014.

Hingga saat ini invasi skala penuh Rusia ke Ukraina telah menyebabkan kerusakan, kematian, dan pengungsian penduduk sipil negara itu. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan setidaknya ada 5.500 warga sipil telah tewas dalam pertempuran meskipun jumlah sebenarnya kemungkinan akan jauh lebih tinggi, mengingat sifat kacau dari pencatatan data tersebut selama masa perang.

Invasi Rusia juga telah memicu kecaman internasional dan sanksi ekonomi yang luas terhadap sektor-sektor utama negara itu, perusahaan dan individu yang terhubung dengan Kremlin.

Obsesi pemimpin Rusia terhadap Ukraina sudah berlangsung lama dan telah berulang kali memuji persatuan Rusia dan Ukraina, sementara pada saat yang sama menyesalkan pemerintah pro-Barat negara itu di bawah Presiden Volodymyr Zelenskyy.

Analis politik mengatakan bahwa klaim Putin yang ditujukan kepada pemerintah Ukraina adalah omong kosong, yang mencerminkan sikap irasional dan penilaian buruk terhadap kepemimpinan di Kyiv.

Pejabat Barat dan pengikut dekat Rusia juga melihat komentar Putin, dan alibinya tentang sejarah sebagai upaya untuk menciptakan narasi yang salah dan menyesatkan.

AS dan sekutu Eropanya di NATO telah berusaha membantu pertahanan Ukraina atas kedaulatan teritorialnya dengan bantuan dalam bentuk senjata, bantuan keuangan dan kemanusiaan, dengan mengatakan bahwa Rusia tidak boleh diizinkan untuk berhasil merebut wilayahnya untuk Ukraina.

Rusia mengatakan bantuan Barat untuk Ukraina adalah puncak dari sentimen anti-Rusia selama bertahun-tahun, dan menyalahkan NATO karena memulai perang.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Kemenangan di Depan Mata? 7 Fakta Baru Perang Rusia-Ukraina


(luc/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading