Internasional

Alamak! Resesi Seks Makin Ngeri, China Rilis 'Jurus' Baru

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
16 August 2022 17:55
Penumpang menunggu untuk naik kereta api di Stasiun Kereta Hongqiao Shanghai saat liburan musim semi Festival tahunan dimulai menjelang Imlek Tahun Baru Imlek di Shanghai, China 12 Februari 2018. REUTERS / Aly Song Foto: REUTERS/Aly Song

Jakarta, CNBC Indonesia - China kini mengumumkan jurus baru untuk menggenjot satu keluarga memiliki lebih banyak anak. Hal ini didorong rendahnya tingkat kelahiran negara itu, mencapai rekor terendah dan diyakini makin menyusut di 2025.

Pedoman kebijakan dikeluarkan Komisi Kesehatan Nasional Selasa (16/8/2022). Badan itu mendesak pemerintah pusat dan provinsi untuk meningkatkan pengeluaran guna kesehatan reproduksi dan meningkatkan layanan pengasuhan anak secara nasional.

"Mereka mengharuskan pemerintah daerah untuk menerapkan langkah-langkah yang mendukung kesuburan aktif," tulis AFP mengutip pengumuman Komisi Kesehatan Nasional.


"Termasuk menawarkan subsidi, potongan pajak, dan asuransi kesehatan yang lebih baik, serta dukungan pendidikan, perumahan dan pekerjaan untuk keluarga muda," tambahnya.

Semua provinsi juga harus memastikan bahwa mereka menyediakan layanan pengasuhan yang cukup untuk anak-anak berusia dua hingga tiga tahun. Setidaknya ini harus tercapai di akhir tahun ini.

Sebenarnya, kota-kota Cina yang lebih kaya telah membagikan pajak dan kredit perumahan, tunjangan pendidikan serta insentif tunai untuk mendorong perempuan memiliki lebih banyak anak. Pedoman terbaru yang dikeluarkan hari ini, juga berusaha untuk mendorong semua provinsi untuk meluncurkan langkah-langkah tersebut.

Sebelumnya, tingkat kelahiran China merosot menjadi 7,52 kelahiran per 1.000 orang tahun lalu. Menurut data Biro Statistik Nasional, ini menjadi yang terendah sejak pencatatan dimulai pada 1949, ketika Partai Komunis China didirikan.

Biaya hidup yang lebih tinggi dan pergeseran budaya karena terbiasa dengan keluarga yang lebih kecil telah disebut-sebut sebagai alasan di balik jumlah bayi yang lebih rendah. Budaya kerja yang berat juga dikatakan membuat bahkan muda-mudi malas melakukan hubungan, termasuk menikah, dan memilih tak memiliki anak.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Singapura Pening "Resesi Seks", Apa Dampaknya Buat Ekonomi?


(sef/sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading