Ekonomi Dunia 2023 Gelap, Ramalan Harga Minyak Bikin Ngeri!

News - Hadijah Alaydrus, CNBC Indonesia
15 August 2022 08:30
FILE - In this Aug. 26, 2021 file photo, a flare burns natural gas at an oil well Aug. 26, 2021, in Watford City, N.D. The world's facing an energy crunch. Europe is feeling it worst as natural gas prices skyrocket to five times normal, forcing some factories to hold back production. Reserves depleted last winter haven't been made up, and chief supplier Russia has held back on supplying extra. Meanwhile, the new Nord Stream 2 gas pipeline won't start operating in time to help if the weather is cold, and there's talk Europe could wind up rationing electricity. China is feeling it too, seeing power outages in some towns. (AP Photo/Matthew Brown, file) Foto: AP/Matthew Brown

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Joko Widodo (Jokowi) memprediksi ekonomi dunia pada 2023 akan lebih berat dan menantang dibandingkan tahun ini.

Ramalan ini didapat oleh Jokowi dari berbagai sumber a.l. Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, G7 hingga Sekjen PBB Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres.


"Tahun ini kita akan sangat sulit, terus kemudian tahun depan seperti apa? Tahun depan akan gelap," papar Jokowi, minggu lalu (5/8/2022).

Menurut Jokowi, mengutip data lembaga internasional, sebanyak 60 negara berada di jurang keambrukan akibat ketidakpastian. Dia menambahkan sebanyak 320 orang di dunia telah mengalami kelaparan dan terancam lapar.

Suramnya ekonomi dunia ini dipicu oleh kondisi geopolitik yang masih panas antara Rusia dan Ukraina. Konflik yang dimulai dari awal tahun ini telah menyebabkan harga komoditas pangan dan energi global meningkat tajam sehingga inflasi di banyak negara melonjak ke level rekor tertinggi.

Managing Director IMF Kristalina Georgieva mengungkapkan inflasi lebih tinggi dari yang diharapkan dan telah meluas melampaui harga pangan dan energi.

Hal ini mendorong bank sentral negara maju untuk mengumumkan pengetatan moneter lebih lanjut - satu langkah yang diperlukan tetapi akan membebani pemulihan.

Gangguan terkait pandemi yang berkelanjutan-terutama di China-dan kemacetan baru dalam rantai pasokan global telah menghambat aktivitas ekonomi.

Kondisi ini yang dipercaya IMF ini akan menurunkan pertumbuhan ekonomi global pada 2022 dan 2023.

"Memang, prospeknya tetap sangat tidak pasti. Pikirkan bagaimana gangguan lebih lanjut dalam pasokan gas alam ke Eropa dapat menjerumuskan banyak ekonomi ke dalam resesi dan memicu krisis energi global," ujar Kristalina dikutip dari tulisannya di Blog IMF.

"Ini hanyalah salah satu faktor yang dapat memperburuk situasi yang sudah sulit.

Ini akan menjadi 2022 yang sulit-dan mungkin 2023 yang lebih sulit, dengan peningkatan risiko resesi."

Harga Minyak Masih Tinggi

Dengan ekonomi dunia yang bakal gelap gulita di 2023, beberapa harga komoditas diperkirakan tetap tinggi, beberapa di antaranya harga minyak dan gas.

Data dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan harga minyak dan gas akan sedikit melandai tahun depan.

Tetapi jangan senang dulu, karena harga minyak tetap akan berada di kisaran US$90-US$80 per barel.

Dengan persediaan minyak yang diperkirakan tetap di bawah angka rata-rata lima tahunan, EIA memperingatkan bahwa potensi volatilitas harga minyak tetap tinggi pada 2022 dan 2023.

EIA memperkirakan harga minyak Brent akan mencapai US$95,13 per barel pada 2023, dibandingkan US$104,78 per barel tahun ini.

Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran 89,13 per barel pada tahun depan, melandai dari US$98,71 per barel tahun ini.

Dalam laporan Juli 2022, EIA menurunkan perkiraan permintaan minyak global untuk tahun 2022 sebesar 50.000 barel per day (b/d) menjadi 99,58 juta b/d.

Tetapi, perkiraan permintaan global untuk tahun 2023 naik 260.000 b/d menjadi 101,58 juta b/d.

Artinya, dengan pasokan yang di bawah rata-rata lima tahun, permintaan tinggi akan menggerek harga minyak dunia. Pergerakan ini, pada akhirnya, akan mendorong kenaikan harga komoditas lainnya

Laporan EIA Juli mengasumsikan bahwa negara-negara OPEC+ tidak akan sepenuhnya meningkatkan produksi sesuai dengan target mereka tahun ini karena beberapa negara tidak akan dapat memenuhi target baru.

Dikutip dari laporan S&P Global Commodity Insights, produksi minyak mentah OPEC rata-rata sebesar 28,3 juta barel per hari pada paruh pertama tahun 2022, dan output-nya akan meningkat menjadi 29,1 juta barel per hari pada paruh kedua tahun ini, hingga kemudian meningkat menjadi 29,3 juta barel per hari pada 2023.

Lebih lanjut, gas alam diperkirakan akan menyentuh level US$14,95 per dollars thousand cubic feet (Mcf), naik dari US$14,56 per Mcf.

Emas hitam atau batu bara akan tetap tinggi di harga US$2,19 MMBtu, dari US$2,21 MMBtu pada tahun ini.

Setelah lonjakan harga di 2022, Bank Dunia memperkirakan harga gas alam dan batu bara dunia akan melemah secara moderat pada 2023.

Namun, level perkiraan harga kedua komoditas energi tersebut akan tetap tinggi dibandingkan rata-rata level harga lima tahun terakhir.

"Durasi konflik Rusia dan Ukraina dan cakupan disrupsinya terhadap batu bara dan gas alam adalah ketidakpastian terbesar dalam proyeksi untuk pasar," tulis Bank Dunia dalam blognya, beberapa waktu lalu (19/7/2022).

Bank Dunia mengingatkan penurunan ekspor Rusia untuk Uni Eropa dapat kembali menaikkan harga jika hal ini terjadi pada periode musim dingin ketika permintaan tinggi.

Khusus untuk gas alam, harga dipastikan tetap rentan terhadap kondisi terkait cuaca dan kebijakan impor yang dapat mempengaruhi pola perdagangan dan mendongkrak biaya.

"Hal ini terutama terjadi mengingat kapasitas produksi cadangan global untuk gas alam sangat terbatas," tulis laporan Bank Dunia yang disusun Ekonom Senior Prospect Group Peter Nagle dan Riset Analis Prospect Group Bank Dunia Kaltrina Temaj.

 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Jokowi: Negara Manapun Tak Kuat Subsidi BBM Seperti RI


(mij/mij)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading