Internasional

Eks Mata-mata Soviet: Kekuasaan Putin Tinggal Menghitung Hari

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
12 August 2022 13:15
Russian President Vladimir Putin watches a military parade on Victory Day, which marks the 77th anniversary of the victory over Nazi Germany in World War Two, in Red Square in central Moscow, Russia May 9, 2022. Sputnik/Mikhail Metzel/Pool via REUTERS ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. THIS PICTURE WAS PROCESSED BY REUTERS TO ENHANCE QUALITY. AN UNPROCESSED VERSION HAS BEEN PROVIDED SEPARATELY. Foto: via REUTERS/SPUTNIK

Jakarta, CNBC Indonesia - Terlepas dari keunggulan militer Rusia, Ukraina rupanya telah berhasil mencegah pasukan penyerang mencapai banyak tujuannya selama konflik perang berlangsung. Akibatnya, kini Presiden Rusia Vladimir Putin diperkirakan akan merasakan beban tekanan dari dalam lingkaran politiknya sendiri.

Jack Barsky, mantan agen badan intelijen Uni Soviet KGB yang memata-matai AS dari tahun 1978 hingga 1988 dan kemudian beralih pihak menjadi intelijen bagi Washington, percaya hari-hari kekuasaan Putin sekarang tinggal menghitung hari.

Berbicara kepada CBS News, Barsky menjelaskan bagaimana Kremlin beroperasi di bawah pemerintahan otoriter Putin. Dia memperingatkan bahwa kegagalan penguasa lalim Rusia di Ukraina bisa menjadi awal dari akhir untuk masa kekuasaannya.

"Dengan asumsi bahwa dia dapat bertahan hidup ini, dengan asumsi tidak ada semacam kudeta terhadap dia - jangka panjang, dia akan berada dalam masalah jika ini terus seperti ini, jika lebih banyak tentara terus mati," kata Barsky, dikutip dari Express, Jumat (12/8/2022).

"Dia akan memiliki Afghanistan di tangannya," lanjutnya, mengacu pada invasi Soviet ke Afghanistan pada tahun 1979. "Dan seperti yang Anda tahu, Afghanistan adalah awal dari akhir Uni Soviet dan Ukraina mungkin menjadi awal dari akhir Putin sebagai diktator."

Barsky juga membahas apa yang memotivasi ambisi imperialistik Putin, mengutip runtuhnya Uni Soviet sebagai momen penting dalam kehidupan Presiden Rusia. Putin sedang bertugas di KGB pada saat itu, dan ditempatkan di Jerman Timur ketika Tembok Berlin runtuh pada tahun 1989.

"Pada titik ini, Putin berubah dari menjadi anggota organisasi yang paling kuat, menjalani kehidupan yang baik di Jerman Timur, menjadi seseorang yang benar-benar tidak berdaya, mempertahankan posisi itu," ujarnya.

"Saya pikir itu meninggalkan kesan mendalam padanya dan memotivasi dia untuk membangun kembali, tidak harus Uni Soviet, tetapi Rusia yang lebih besar. Inilah yang dia kejar."

Akrab dengan cara kerja Kremlin, Barsky percaya bahwa Putin tidak akan memedulikan penderitaan rakyat Rusia.

Memperhatikan pegangan ketat kekuasaan Putin, Barsky mengatakan selama dia memuaskan lingkaran dalamnya, yakni orang-orang yang secara langsung mendukungnya, Putin tidak perlu terlalu takut karena dia akan sangat terlindungi.

Pertempuran di Ukraina telah mencapai fase penting. Setelah berbulan-bulan serangan Rusia, Kyiv kini meluncurkan serangan balasan yang bertujuan untuk mendorong musuh mereka keluar dari wilayah utama di selatan dan timur negara itu.

Sebuah pertempuran kunci sedang berlangsung untuk kota Kherson, sebuah kota yang direbut oleh Rusia pada Maret. Berbekal persenjataan yang lebih canggih, pasukan Ukraina telah menyerang pangkalan udara Rusia di Krimea yang diduduki.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Putin Umumkan Kemenangan Rusia di Mariupol, Kenapa Buru-buru?


(tfa/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading