Internasional

Eks Presiden Rusia: Zelensky Pakai Buku Pedoman Hitler

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
12 August 2022 07:40
Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev Foto: Sputnik/Ekaterina Shtukina/Pool via REUTERS

Jakarta, CNBC Indonesia - Mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev menyebut orang nomor satu di Ukraina Volodymyr Zelensky ingin Barat mencari inspirasi dari pemimpin Nazi Jerman Adolf Hitler.

Medvedev, yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Keamanan Nasional Rusia, mengecam Zelensky atas seruannya untuk hukuman kolektif bagi Rusia.

Zelensky yang didukung NATO menyerukan agar semua orang Rusia, terlepas dari kecenderungan atau keadaan mereka, untuk dideportasi dari negara-negara Barat.

"Adolf Hitler mencoba menerapkan ide-ide seperti itu tentang seluruh rakyat," kata Medvedev pada Selasa (9/8/2022) lalu, dikutip dari Russia Today. "Ada pertanyaan lagi tentang sifat otoritas Ukraina?"

Adapun, Nazi Jerman melakukan pemusnahan terhadap kelompok orang yang tidak diinginkan, termasuk Yahudi, Roma, LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender), penyandang disabilitas, dan komunis. Ini merupakan salah satu contoh hukuman kolektif paling ekstrem dalam sejarah.

Teguran keras, yang dirilis di media sosial Medvedev, muncul sebagai tanggapan atas wawancara dengan Zelensky yang diterbitkan oleh The Washington Post pada Senin sebelumnya.

Berbicara kepada surat kabar Amerika Serikat (AS), Zelensky menyerukan negara-negara Barat untuk mengusir semua orang Rusia yang tinggal di tanah mereka dan melarangnya masuk. Ia mengatakan pengusiran yang diusulkan harus berlaku bahkan untuk penentang pemerintah Rusia.

"Seluruh penduduk tidak bisa dimintai pertanggungjawaban, bukan?' Bisa. Penduduk memilih pemerintah ini dan mereka tidak melawannya, tidak berdebat dengannya, tidak meneriakinya," kata Zelensky dalam wawancara tersebut.

Seruan Zelensky bertujuan agar warga Rusia di luar negeri yang akan dipaksa untuk kembali ke negara asal di luar kehendak mereka dapat menekan pemerintah Rusia dan membuatnya mempertimbangkan kembali kebijakannya terhadap Ukraina.

Rusia sendiri menyerang tiba-tiba Ukraina pada 24 Februari lalu. Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut serangannya dilakukan karena kegagalan Kyiv untuk mengimplementasikan perjanjian Minsk, yang dirancang untuk memberikan wilayah Donetsk dan Lugansk status khusus di dalam negara Ukraina.

Pada waktu yang sama, Kremlin mengakui republik Donbas sebagai negara merdeka dan menuntut agar Ukraina secara resmi menyatakan dirinya sebagai negara netral yang tidak akan pernah bergabung dengan blok militer Barat mana pun.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Disamakan dengan Hitler oleh Rusia, Zelensky Curhat ke Israel


(tfa/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading