Internasional

Krisis Energi Minggir, Hal Ini Bisa Rusak Parah Ekonomi Eropa

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
11 August 2022 21:50
A man walks along Lake Tuz in Aksaray province, Turkey, Monday, Oct. 25, 2021. Lake Tuz, Turkey’s second largest lake, and home to several bird species has seen its waters entirely recede this year, a victim of climate change-induced drought that has hit the region as well as decades-long wrongful agricultural policies that have exhausted the lake’s underground waters. (AP Photo/Emrah Gurel) Foto: AP/Emrah Gurel

Jakarta, CNBC Indonesia - Eropa saat ini terancam mengalami kerusakan parah pada ekonomi. Setelah sebelumnya terancam akibat suplai energi dari Rusia, kali ini kekhawatiran muncul dari efek perubahan iklim.

Badan Antariksa Eropa (ESA) mengatakan bahwa perubahan iklim ini telah memicu beberapa bencana seperti kekeringan dan juga gelombang panas. Direktur Jenderal ESA Josef Aschbacher mengatakan kondisi alam ini memiliki dampak yang jauh lebih besar ke ekonomi benua itu dari krisis energi.

"Hari ini, kami sangat prihatin dengan krisis energi, dan memang demikian. Tetapi krisis ini sangat kecil dibandingkan dengan dampak perubahan iklim, yang jauh lebih besar dan harus ditangani dengan sangat cepat," katanya seperti diberitakan Reuters, Kamis (11/8/2022).


Ucapan Aschbacher ini datang tatkala bencana akibat perubahan iklim melanda dunia. Lebih dari 57.200 hektar telah ditelan oleh kebakaran hutan di Prancis tahun ini. Di Spanyol, musim kemarau yang berkepanjangan menjadikan Juli sebagai bulan terpanas setidaknya sejak tahun 1961.

Danau Great Salt di Utah, Amerika Serikat (AS) dan Sungai Po Italia berada pada level debit air terendah. Ini juga kemungkinan besar akan diikuti Sungai Loire di Prancis.

Pada hari Selasa, Inggris mengeluarkan peringatan baru "Panas Ekstrim". Ini merujuk pada rekor suhu di atas 40 derajat Celcius yang terjadi di negara itu.

"Ini sangat buruk. Kami telah melihat ekstrem yang belum pernah diamati sebelumnya," tambah Aschbacher.

Naiknya suhu udara bukan satu-satunya masalah. Aschbacher juga menjelaskan bahwa permukaan bumi juga semakin panas. Ini dibuktikan dari hasil pantauan satelit Copernicus Sentinel-3 milik ESA yang mencatat suhu permukaan tanah "ekstrim" lebih dari 45C di Inggris, 50C di Prancis, dan 60C di Spanyol dalam beberapa pekan terakhir.

"Ini benar-benar seluruh ekosistem yang berubah sangat, sangat cepat dan jauh lebih cepat dari yang diperkirakan para ilmuwan sampai beberapa tahun lalu," ujarnya lagi.

"Kekeringan, kebakaran, intensitas badai, semuanya digabungkan bersama, yang merupakan tanda-tanda perubahan iklim yang terlihat."


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Good Bye, Mobil Bensin Dilarang Beredar 2035 di Sini


(sef/sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading