Internasional

China Sebut AS sebagai Penghasut Utama Perang Rusia-Ukraina

News - luc, CNBC Indonesia
11 August 2022 06:30
Stanislav says goodbye to his two-year-old son David and wife Anna after they boarded a train that will take them to Lviv, from the station in Kyiv, Ukraine, Thursday, March 3. 2022. Stanislav stayed to fight as his family sought refuge in a neighboring country. (AP Photo/Emilio Morenatti) Foto: AP/Emilio Morenatti

Jakarta, CNBC Indonesia - China kembali melontarkan tudingan terhadap Amerika Serikat. Kali Ini terkait perang di Ukraina dengan menyebut Negeri Paman Sam sebegai penghasut utama dalam krisis tersebut.

Dalam sebuah wawancara dengan kantor berita negara Rusia, TASS, duta besar China untuk Moskow Zhang Hanhui menuduh Washington menyudutkan Rusia dengan ekspansi berulang dari aliansi pertahanan NATO dan dukungan untuk pasukan yang berusaha menyelaraskan Ukraina dengan Uni Eropa, ketimbang Moskow.

"Sebagai pemrakarsa dan penghasut utama krisis Ukraina, Washington, sementara memberlakukan sanksi komprehensif yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Rusia, terus memasok senjata dan peralatan militer ke Ukraina," kata Zhang seperti dikutip Reuters, Kamis (11/8/2022).


"Tujuan utama mereka adalah untuk menguras dan menghancurkan Rusia dengan perang yang berlarut-larut dan pukulan sanksi," imbuhnya.

'Dukungan' China itu pun menjadi justifikasi atas serangan Rusia ke Ukraina yang telah menyebabkan ribuan kematian dan mendorong lebih dari seperempat penduduk meninggalkan rumah mereka.

Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan perjalanan ke Beijing pada bulan Februari untuk bertemu dengan Presiden Xi Jinping ketika tank-tank Rusia berkumpul di perbatasan Ukraina. Kedua negara menyetujui kemitraan "tanpa batas" yang lebih unggul daripada aliansi Perang Dingin mana pun.

Dalam wawancara tersebut, Zhang mengatakan hubungan China-Rusia telah memasuki "periode terbaik dalam sejarah, ditandai dengan tingkat saling percaya tertinggi, tingkat interaksi tertinggi, dan kepentingan strategis terbesar".

Dia pun mengecam kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi minggu lalu ke Taiwan dan mengatakan Amerika Serikat sedang mencoba menerapkan taktik yang sama di Ukraina dan Taiwan untuk menghidupkan kembali mentalitas Perang Dingin, menahan China dan Rusia, serta memprovokasi persaingan dan konfrontasi kekuatan besar.

"Non-intervensi dalam urusan internal adalah prinsip paling mendasar untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di dunia kita," kata Zhang.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

China & Rusia Bela Korut, Tuding AS sebagai Pembawa Masalah


(luc/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading