Internasional

Duh Australia Kiamat 'Minyak Goreng', Gegara RI?

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
09 August 2022 17:00
This handout photo taken on January 26, 2022 by the Australian Defence Force shows the Australian flag flying on board the HMAS Adelaide as the ship arrives in Nuku'alofa, Tonga, carrying disaster relief and humanitarian aid supplies following the January 15 eruption of the Hunga Tonga-Hunga Haapai underwater volcano nearby. (Photo by CPL Robert Whitmore / Australian Defence Force / AFP) / -----EDITORS NOTE --- RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT Foto: AFP/CPL ROBERT WHITMORE

Jakarta, CNBC Indonesia - Australia mulai dilanda krisis minyak nabati. Hal ini mulai dikeluhkan para pelaku usaha di negara itu.

Mengutip ABC News, salah satunya adalah Teresa Paolini. Pengusaha toko makanan di Melbourne itu, biasanya dapat membeli campuran minyak biji kapas untuk menggoreng jualannya dengan kurang dari AU$ 40 per drum atau setara Rp 410 ribu, namun kini tidak lagi.

"Sekarang harganya mencapai AU$ 60 (Rp 621 ribu). Kami harus menaikkan harga sekitar 50 sen untuk setiap item," kata Paolini dikutip Selasa, (9/8/2022).


Data indeks harga konsumen (CPI) terbaru memang menunjukkan bagaimana minyak nabati naik hingga 14% dibanding tahun lalu. Kenaikan sama seperti buah dan sayuran.

Menurut para analis, krisis minyak nabati ini kemungkinan akan memukul banyak bagian lain dari rantai makanan. Hal ini dikarenakan barang itu yang telah menjadi bahan pokok yang mendasar.

Minyak nabati ada dalam segala hal mulai dari margarin hingga hummus. Termasuk makanan-makanan yang dipanggang.

Kenaikan minyak nabati juga telah mempengaruhi industri lain. Seperti kosmetik lipstik dan pelembab.

Data CPI terbaru menunjukkan item perawatan pribadi sudah naik hampir 5% dalam setahun. Salah satu perusahaan yang mengembangkan dan memproduksi kosmetik memperkirakan bahwa inflasi akan meningkat hingga 15% pada tahun 2023, karena harga minyak nabati.

Apa yang mendorong kenaikan?

Sama seperti minyak bumi dan gas, minyak nabati adalah komoditas yang diperdagangkan secara global yang mengikuti harga internasional. Harga juga dipengaruhi perang Rusia di Ukraina.

Baik Rusia maupun Rusia adalah beberapa produsen minyak bunga matahari terbesar. Perang telah membuat ekspor mereka sebagian besar dibatasi.

"Harga (minyak nabati) benar-benar meningkat sangat cepat tahun ini sebagai akibat dari invasi tersebut," kata analis komoditas senior Rabobank Cheryl Kalisch Gordon dimuat laman yang sama.

Namun, minyak bunga matahari bukanlah satu-satunya yang mengalami kenaikan harga. Ini juga terjadi ke yang lain, seperti kanola, kelapa sawit, kedelai, hingga biji kapas.

"Sebelum itu, kami sudah melihat harga yang dua kali lipat dari rata-rata lima tahun," kata Ms Kalisch Gordon.

Khusus kelapa sawit misalnya, kurangnya tenaga kerja di Malaysia dan Indonesia, dua negara pengekspor terbesar, juga menjadi masalah lain penggerek harga. Belum lagi larangan ekspor yang sempat berlaku untuk memastikan kecukupan dalam negeri.

Khusus minyak kedelai, panen mengecewakan di Brasil dan Paraguay juga jadi soal. Kedelai juga mendapat permintaan ekstra dari China, yang membeli kacang untuk membangun kembali ternak babinya setelah wabah demam babi Afrika.

"Sungguh, kita telah menemukan serangkaian masalah yang dimasukkan ke dalam ini yang tidak diharapkan secara normal," tambahnya Gordon.

"Harga yang lebih tinggi untuk kedelai, minyak sawit dan kanola telah menyebabkan harga atau biaya yang lebih tinggi di seluruh hal kompleks, termasuk untuk minyak zaitun dan biji kapas."


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Gawat! Australia Terancam Gelap Gulita, "Kiamat" Listrik?


(sef/sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading