Internasional

Inflasi 'Meledak', AS Kian Dekat ke Jurang Resesi!

News - luc, CNBC Indonesia
14 July 2022 07:36
The United State flag is silhouetted against the setting sun Sunday, May 28, 2017, in Leavenworth, Kan. (AP Photo/Charlie Riedel) Foto: Bendera Amerika Serikat (AP Photo/Charlie Riedel)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kekhawatiran akan adanya resesi memuncak di Amerika Serikat seiring dengan tingkat inflasi yang terus mengukir rekor pada tahun ini.

Berdasarkan laporan dari 12 distrik bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang disebut Beige Book, pertumbuhan ekonomi berjalan biasa-biasa saja. Bahkan sebanyak lima distrik khawatir ada peningkatan risiko resesi.

"Serupa dengan laporan sebelumnya, prospek pertumbuhan ekonomi masa depan sebagian besar negatif di antara distrik yang melaporkan, dengan ekspektasi melemahnya permintaan lebih lanjut selama 6 hingga 12 bulan ke depan," kata laporan itu, dikutip CNBC International, Kamis (14/7/2022).

Pada sisi inflasi, yang berjalan pada tingkat tahunan tercepat sejak November 1981 dengan mencetak rekor sebesar 9,1% pada Juni 2022, laporan tersebut menemukan kenaikan harga yang substansial di seluruh negeri. Harga di sejumlah sektor industri seperti kayu dan baja telah menurun, tetapi ada peningkatan yang signifikan pada makanan, energi, dan komoditas lainnya.

Perusahaan pun telah memberi sinyal bahwa mereka masih dapat meneruskan kenaikan harga kepada pelanggan, sehingga faktor pendorong inflasi berpotensi masih tetap kuat.

"Sebagian besar kontak memperkirakan tekanan harga akan bertahan setidaknya sampai akhir tahun," lanjut laporan itu.

Kekhawatiran resesi memang telah tumbuh baru-baru ini karena konsumen yang terpukul oleh harga yang lebih tinggi telah memperlambat aktivitas dan investasi domestik. Ekonomi berkontraksi 1,6% pada kuartal pertama, dan Fed Atlanta memiliki proyeksi PDB kembali turun 1,2% pada kuartal kedua, sehingga memenuhi definisi resesi secara praktis.

Untuk menjinakkan inflasi, The Fed pun telah menaikkan suku bunga secara agresif pada pertemuan bulan lalu dengan kenaikan hingga 75 basis poin (bps) atau 0,75%.

Namun, dengan inflasi yang telah menembus 9,1%, ada kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan bulan ini lebih tinggi dari proyeksi.

Sementara itu, dilansir Reuters, Presiden The Fed Atlanta Raphael Bostic mengatakan bahwa semuanya sedang 'dimainkan'. Pernyataan itu mengacu pada potensi kenaikan suku bunga hingga 100 basis poin atau 1% dalam pertemuan pada 26-27 Juli.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

'Musuh dalam Selimut' AS Makin Menggila, Bukan Rusia-China?


(luc/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading