Produk RI Lolos Lubang Jarum, Sempat Bikin Takut Negara Lain

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
13 July 2022 14:05
Pedagang melayani pembeli kantong plastik di Pasar Jaya Slipi, Jakarta, Rabu (9/3/2022). Lonjakan harga minyak mentah mendongkrak kenaikan harga bahan baku plastik. Baik untuk jenis Low Density Polyethylene (LDPE), Linear Low Density Polyethylene (LLDPE), High Density Polyethylene (HDPE), maupun Polypropylene (PP). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Penjualan plastik di Pasar Jaya Slipi, Jakarta, Rabu (9/3/2022). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Produk plastik polietilena densitas tinggi (high-density polyethylene/HDPE) asal Indonesia dikecualikan dari pengenaan bea masuk tindakan pengamanan (BMTP)/safeguard dutyke Filipina.

Otoritas Filipina yaitu Tariff Commission (TC) telah merekomendasikan pengecualian pengenaan BMTP terhadap impor HDPE berbentuk pelet dan granula asal Indonesia pada 27 Juni 2022.

Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan menyambut baik hasil rekomendasi ini. Menurutnya rekomendasi pengecualian ini memberikan harapan bagi produk HDPE Indonesia untuk tetap dapat bersaing di pasar Filipina.


"Rekomendasi Otoritas Filipina ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah mengupayakan peningkatan ekspor dengan cara menjaga akses pasar di negara mitra dagang. Hal ini tentu saja memberi peluang bagi produk HDPE Indonesia untuk tetap dapat bersaing di pasar Filipina,"ujar  Zulhas dalam pernyataan resminya, Rabu (13/7).

TC merekomendasikan untuk mengenakan BMTP sebesar 2persen terhadap produk HDPE yang masuk ke Filipina. Namun, Indonesia dikecualikan dari pengenaan tersebut karena telah memenuhi ketentuan Article 9.1 Agreement in Safeguard Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Tercatat, pangsa impor asal Indonesia sebagai negara berkembang tidak melebihi 3persen atau secara kumulatif tidak melebihi 9persen dari total impor negara-negara berkembang yang pangsa impornya kurang dari 3 persen.

"Berita baik ini merupakan hasil kerja keras dan bentuk komitmen Pemerintah Indonesia dalam menjaga akses pasar ekspor bagi dunia usaha Indonesia. Diharapkan, produk HDPE Indonesia tetap dapat bersaing di pasar Filipina," kata  Plt. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Veri Anggrijono.

Selama proses penyelidikan, Direktorat Pengamanan Perdagangan Kemendag secara aktif melakukan pembelaan terhadap eksportir Indonesia baik secara tertulis maupun penyampaian secara langsung dalam forum dengar pendapat yang diselenggarakan TC.

Direktur Pengamanan Perdagangan Kemendag Natan Kambuno mengingatkan, Indonesia tetap harus mengamati agresivitas negara mitra dagang, termasuk Filipina, dalam menginisiasi penerapan instrumen trade remedies.

"Kita perlu terus amati perkembangannya, mengingat saat ini banyak negara mitra dagang yang cukup agresif dalam menggunakan instrumen trade remedies. Sampai dengan semester pertama tahun 2022, Kementerian Perdagangan telah menangani 34 kasus tuduhan trade remedies dari 14 negara mitra dagang,"lanjut

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), total ekspor produk HDPE Indonesia ke Filipina untuk kode HS 3901.20.00 pada periode 2017-2021 menunjukkan peningkatan ekspor dengan tren sebesar 31,43 persen. Nilai ekspor pada 2017 adalah sebesar USD 2,8 juta, pada 2020 sebesar USD 4,1 juta, dan pada 2021 sebesar USD 6,1 juta.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Mobil Listrik 'Banjir Diskon', Harganya Bisa Lebih Murah!


(hoi/hoi)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading