Internasional

6 Negara Ini Pernah Bangkrut, Rusia 'Jeblos' 9 Kali

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
12 July 2022 16:00
File- Sri Lankan auto rickshaw drivers queue up to buy petrol near a fuel station in Colombo, Sri Lanka, Wednesday, April 13, 2022. Sri Lanka is now almost without gasoline and faces an acute shortage of other fuels. Authorities have announced nationwide power cuts of up to four hours a day and asked state employees not to work on Fridays, except for those needed for essential services.  (AP Photo/Eranga Jayawardena, File) Foto: AP/Eranga Jayawardena

Jakarta, CNBC Indonesia - Isu negara-negara yang rentan mengalami kebangkrutan makin kencang.. Hampir setengah dari negara-negara di benua Eropa, 40% dari negara-negara Afrika, dan 30% dari negara-negara Asia rupanya sempat menyatakan kebangkrutan selama dua abad terakhir.

Sebelumnya, ada Ekuador menjadi negara yang paling sering menyatakan bangkrut di antara negara-negara berdaulat. Negara ini telah menyatakan kebangkrutan 10 kali.

Brasil, Meksiko, Uruguay, Cili, Kosta Rika, Spanyol, dan Rusia juga telah menyatakan kebangkrutan sembilan kali selama periode yang sama.

Jerman telah mengalami kebangkrutan 8 kali. Jejaknya diikuti oleh Amerika Serikat (AS) 5 kali bangkrut, China dan Inggris 4 kali, dan Jepang 2 kali.

Di era modern, Rusia menyatakan kebangkrutan pada akhir tahun sembilan puluhan. Pada tahun 2001, Argentina juga menyatakan kebangkrutan.

Berikut daftar negara yang belum lama ini pernah menyatakan bangkrut, melansir TBS News, Selasa (12/7/2022).

Meksiko

Meksiko gagal membayar pinjaman negara senilai US$ 80 miliar pada tahun 1982. Utang publik tumbuh dengan pesat karena program ekspansi fiskal besar-besaran dari pemerintahan Luis Echeverria.

Menyusul guncangan minyak pada akhir 1970-an dan kondisi ekonomi yang memburuk, peso Meksiko terdepresiasi 50%, tetapi pemerintah masih tidak dapat membayar utangnya, menyebabkan Meksiko gagal membayar pinjaman kepada AS dan IMF.

Selama lima tahun berikutnya, PDB Meksiko turun 11% dan memicu Krisis Utang Amerika Latin, yang membuat negara-negara di seluruh kawasan tidak dapat membayar utang luar negeri mereka. Ini memaksa IMF untuk memberikan pinjaman sebagai ganti reformasi yang tak populer.

Rusia

Sepanjang sejarah, Rusia telah menyatakan dirinya bangkrut sebanyak 9 kali. Terakhir pada tahun 1998 dengan utang sebesar US$ 17 miliar. Efek dari krisis keuangan Asia dan penurunan permintaan minyak mulai memberikan tekanan pada ekonomi Rusia yang telah menanggung utang internasional, serta menderita penurunan produktivitas nasional.

Krisis Rubel yang dihasilkan tahun 1998 melihat pasar saham Rusia kehilangan 75% dari nilainya dan inflasi mencapai 80% karena investor meninggalkan pasar.

Rusia hanya akan mampu membayar kembali kurang dari US$ 10 miliar dari US$ 17 miliar utangnya kepada IMF, dan ekonomi Rusia mengalami kontraksi 5,3% pada tahun 1998 karena pengangguran mencapai 13%.

Argentina

Argentina menyatakan kebangkrutan pada tahun 2001 dengan utang sebesar US$ 145 miliar karena kebijakannya yang mematok peso ke Dolar AS. Akibatnya utang publik yang tidak terkendali, dan korupsi yang merajalela membuat negara itu tidak mampu menghadapi sejumlah guncangan ekonomi.

Pada tahun 2001, pengangguran lebih dari 20%, dan Argentina menyatakan default utang terbesar dalam sejarah ketika kehilangan lebih dari US$100 miliar pembayaran utang.

Islandia

Islandia bangkrut pada tahun 2008 dengan utang sebesar US$ 85 miliar. Ini terjadi ketika pasar kredit global mengering setelah jatuhnya sektor keuangan AS. Gelembung perbankan telah tumbuh begitu besar sehingga pada tahun 2008, sistem perbankan memiliki utang yang setara dengan 10 kali PDB Islandia.

Ketika tiga bank terbesar di negara ini runtuh dan menjadi keruntuhan perbankan sistematis terbesar dalam sejarah. Akibatnya negara itu jatuh ke dalam depresi, dan ekonominya berkontraksi 10% selama dua tahun.

Menariknya, Islandia telah membuat pemulihan yang solid sejak krisis, dengan pengangguran tetap stabil di 4%, dan pada 2014, ekonominya 1% lebih besar daripada sebelum 2008.

Lebanon

Krisis Lebanon dimulai pada akhir 2019 setelah pemerintah mengumumkan pajak baru yang diusulkan, termasuk biaya bulanan US$ 6 untuk menggunakan panggilan suara Whatsapp. Langkah-langkah tersebut memicu kemarahan terhadap kelas penguasa dan protes massa selama berbulan-bulan. Kontrol modal yang tidak teratur diberlakukan, membuat rakyat menderita.

Pada Maret 2020, Lebanon gagal membayar kembali utangnya yang sangat besar, yang pada saat itu bernilai sekitar US$ 90 miliar atau 170% dari PDB, salah satu yang tertinggi di dunia.

Pada Juni 2021, dengan mata uang yang telah kehilangan hampir 90% nilainya, Bank Dunia mengatakan krisis tersebut menempati peringkat salah satu yang terburuk di dunia dalam lebih dari 150 tahun.

Pada April 2020, Wakil Perdana Menteri pemerintah Lebanon Saadeh al-Shami mengumumkan kebangkrutan negara dan Bank Sentral Lebanon. Kerugian didistribusikan ke negara, Banque du Liban, bank dan deposan.

Sri Lanka

Terbaru, Sri Lanka tengah menghadapi krisis ekonomi terburuk sejak memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1948. Tak hanya krisis ekonomi, krisis kemanusiaan pun tak terelakkan.

Perdana Menteri (PM) baru Sri Lanka, Ranil Wickremesinghe, mengakui kebangkrutan dan mengatakan kepada parlemen bahwa krisis ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya akan bertahan hingga setidaknya akhir tahun depan.

Sri Lanka tercatat tidak dapat membayar kembali utang luar negerinya sebesar US$ 51 miliar. Pemerintah menyatakan gagal bayar pada April dan sedang bernegosiasi dengan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk kemungkinan bailout.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Sri Lanka Panas Hingga Presiden Mundur, Ini Biang Keroknya


(tfa/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading