Internasional

Menteri Biden hingga Xi Jinping Datang ke RI Besok, Ada Apa?

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
06 July 2022 15:25
Presiden Joko Widodo menyerukan negara G7 dan G20 untuk bersama-sama mengatasi krisis pangan yang saat ini mengancam rakyat di negara-negara berkembang jatuh ke jurang kelaparan dan kemiskinan ekstrim. (Dok: Biro Pers Sekretariat Presiden) Foto: Presiden Joko Widodo menyerukan negara G7 dan G20 untuk bersama-sama mengatasi krisis pangan yang saat ini mengancam rakyat di negara-negara berkembang jatuh ke jurang kelaparan dan kemiskinan ekstrim. (Dok: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia akan menggelar G20 Foreign Ministers' Meeting (FMM) di Bali mulai 7-8 Juli 2022. Forum strategis para menteri luar negeri (menlu) anggota G20 ini akan membahas upaya pemulihan global.

Para menlu negara anggota G20 dipastikan datang. Pertemuan mengusung tema "Membangun dunia yang lebih damai, stabil, dan sejahtera bersama".

G20 sendiri beranggotakan Afrika Selatan, Amerika Serikat (AS), Arab Saudi, Argentina, Australia, Brasil, China, India, Indonesia, Inggris, Italia. Ada pula Jepang, Jerman, Kanada, Meksiko, Republik Korea, Rusia, Perancis, Turki, dan Uni Eropa (UE).


"G20 FMM akan terdiri dari dua sesi," kata Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI dalam rilisnya, Rabu (6/7/2022).

Sesi pertama mengenai penguatan multilateralisme akan membahas langkah bersama bagi penguatan kolaborasi global dan membangun rasa saling percaya antar-negara yang menjadi enabling environment bagi stabilitas, perdamaian, dan pembangunan dunia." 

Dalam sesi pertama akan hadir dua pembicara khusus, yaitu Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan Prof. Jeffrey Sachs dari Universitas Columbia. Keduanya dikatakan akan memberikan pandangan mengenai penguatan prinsip dan forum multilateral dalam situasi geopolitik saat ini.

Sementara sesi kedua akan membahas mengenai krisis pangan dan energi. Ini akan membahas langkah strategis untuk menanggulangi krisis kerawanan pangan, kekurangan pupuk, dan kenaikan harga komoditas global.

"Kenaikan harga komoditas dan terganggunya rantai pasok global memberikan dampak yang sangat besar bagi negara berkembang. Untuk itu, G20 sebagai forum ekonomi yang mewakili berbagai kawasan dunia, memiliki kekuatan untuk membahas isu ini secara komprehensif, demi mencari solusi ekonomi-sosial yang berkelanjutan," jelas Kemlu RI.

Pada sesi kedua, akan hadir tiga pembicara khusus. Yaitu Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia (WFP) David Beasley, Perwakilan Khusus Sekjen PBB Untuk Energi Berkelanjutan Bagi Semua dan Co-Chair UN-Energy Damilola Ogunbiyi, serta Direktur Pelaksana World Bank Mari Pangestu.

"Mereka akan memberikan pandangan mengenai dampak konflik atas ekonomi dan pembangunan dunia," imbuhnya.

Tidak hanya pertemuan utama, disela-sela G20 FMM, Menlu RI Retno Lestari Priansari Marsudi juga akan melakukan sejumlah pertemuan bilateral dengan para menlu negara anggota G20 dan negara lain yang diundang. Rangkaian pertemuan G20 di bawah Presidensi Indonesia telah dimulai pada 1 Desember 2021 dan akan berpuncak pada KTT Bali pada tanggal 15-16 November 2022.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ini Alasan Negara Barat Mau Walk-Out di Pertemuan G20


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading