Internasional

Ada Kabar Tak Enak dari WHO Soal Omicron Baru, Berani Baca?

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
16 June 2022 08:40
FILE - In this June 11, 2009, file photo, the logo of the World Health Organization is seen at the WHO headquarters in Geneva, Switzerland. An email obtained by The Associated Press shows that the World Health Organization has recorded 65 cases of the coronavirus among staff based at its headquarters. (AP Photo/Anja Niedringhaus, File)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi Covid-19 belum usai. Hal ini terbukti dari ditemukannya virus corona varian Omicron baru bernama BA.4 dan BA.5 oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada April lalu.

Kedua varian tersebut merupakan saudara dari BA.1 alias Omicron asli. Sebelumnya Omicron diketahui memiliki sejumlah subvarian, yakni BA.2, BA.1.1 dan BA.3.

Kedua subvarian itu ditemukan pertama kali di Afrika Selatan pada awal tahun ini. Kemudian, WHO menyatakan BA.4 dan BA.5 sebagai variant of concern (VoC) pada 12 Mei 2022 lalu. Kini Omicron BA.4 dan BA.5 juga dilaporkan telah ditemukan di Indonesia.


Mengutip studi-studi awal di Eropa, kedua varian ini bahkan mengalami perubahan karakteristik, membuat BA.4 dan BA.5 dapat menular lebih cepat dan menghindari kekebalan tubuh setelah infeksi terjadi karena varian sebelumnya.

Akibat munculnya varian baru, Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus memperingatkan bahwa dengan penularan yang meningkat, berarti akan ada lebih banyak laporan kematian dan lebih banyak risiko munculnya varian baru.

"Jadi, apakah Covid-19 sudah berakhir? Tidak, ini pasti belum berakhir. Saya tahu ini bukan pesan yang ingin Anda dengar, dan itu jelas bukan pesan yang ingin saya sampaikan," kata Tedros dalam acara pembukaan Majelis Kesehatan Dunia tahunan badan pembuat keputusan WHO yang terdiri dari perwakilan 194 negara, dikutip dari UN News, Rabu (15/6/2022).

Dia menambahkan meskipun di banyak negara semua pembatasan telah dicabut dan kehidupan tampak seperti sebelum pandemi, kasus Covid yang dilaporkan justru meningkat di hampir 70 negara di semua wilayah. Terutama, di wilayah di mana jumlah tes Covid yang dilakukan sudah sangat sedikit.

Tedros memperingatkan bahwa kematian akibat Covid yang dilaporkan juga meningkat di Afrika, di mana wilayah itu menjadi benua dengan cakupan vaksinasi terendah.

"Virus ini telah mengejutkan kami dalam banyak hal, badai yang telah melanda masyarakat berulang kali, dan kami masih tidak dapat memprediksi jalurnya, atau intensitasnya," ungkapnya.

Meski tidak bisa memprediksi kapan Covid berakhir, dia menegaskan bahwa ada kemajuan signifikan terkait vaksin Covid. Saat ini, sekitar 60% populasi dunia sudah divaksinasi, meskipun Tedros mengingatkan bahwa hampir satu miliar orang di negara-negara berpenghasilan rendah tetap belum divaksinasi.

"Hanya 57 negara yang telah memvaksinasi 70% dari populasi mereka dan hampir semuanya negara berpenghasilan tinggi," katanya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Waspada! Penerima Vaksin Bisa Kena Omicron, Ini Gejalanya


(tfa/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading