Internasional

Janet Yellen Buka-bukaan soal Resesi AS, Bener Kejadian?

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
10 June 2022 15:05
Treasury Secretary Janet Yellen speaks during a meeting with President Joe Biden and business leaders about the debt limit in the South Court Auditorium on the White House campus, Wednesday, Oct. 6, 2021, in Washington. (AP Photo/Evan Vucci) Foto: AP/Evan Vucci

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan (Menkeu) Amerika Serikat (AS) Janet Yellen kembali buka suara mengenai potensiĀ resesi di negaranya dan dunia. Menurutnya, memang akan ada dampak besar dari inflasi yang terjadi saat ini.

Berbicara di forum kebijakan DealBook D.C., Yellen mengatakan bahwa ekonomi global menghadapi serangkaian ancaman serius. Bahkan, harga gas mungkin tidak akan turun dalam waktu dekat.

Meski begitu, ia optimis dengan mengatakan ekonomi AS akan tetap kuat. Pihaknya akan mempertahankan kondisi pasar tenaga kerja dan keuangan rumah tangga untuk menggenjot konsumsi.


"Tidak ada yang menunjukkan bahwa resesi sedang terjadi," kata Yellen seperti dikutip CNBC International, Jumat (10/6/2022).

AS sendiri saat ini diketahui sedang mengalami inflasi yang tinggi. Dalam data terbaru bulan April 2022, inflasi di negara itu telah mencapai 8,2%.

Pemerintahan Presiden Joe Biden bersama The Fed pun saat ini sedang melakukan beberapa hal untuk menekan angka ini. Biden meluncurkan investasi tambahan dalam energi terbarukan serta kenaikan pajak bagi kalangan atas sementara The Fed menaikkan tingkat suku bunga hingga 50 basis poin.

Yellen sendiri berpendapat bahwa langkah yang dilakukan Biden ini dapat memperkuat perekonomian dalam bentuk investasi. Sehingga konsumsi dan pasar tenaga kerja tetap kuat.

"Saya percaya ada banyak hal yang dapat dilakukan Kongres untuk meringankan beban biaya yang dialami rumah tangga," kata Yellen kepada Komite Keuangan Senat dikutip AFP.

Di sisi lain, berdasarkan pelacak GDP The Fed, GDPNow Fed Atlanta, pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal kedua tahun ini hanya sebesar 0,9%. Adapun, pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama telah turun sebesar 1,5%.

CEO JPMorgan Jamie Dimon bahkan sempat menyebut bahwa situasi saat ini telah menjadi badai bagi ekonomi. Pasalnya rantai pasok global saat ini sedang dalam gangguan akibat perang di Ukraina dan penguncian Covid-19 di China.

"Anda tahu, saya mengatakan ada awan badai, tetapi saya akan mengubahnya ... itu badai," kata Dimon pada konferensi keuangan di New York pekan lalu.

"Sementara kondisinya tampak baik-baik saja saat ini, tidak ada yang tahu apakah badai itu kecil atau Superstorm Sandy."


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ramalan Baru Janet Yellen Soal Resesi Ekonomi AS


(sef/sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading