Covid Minggir! Ini Triple Horor yang Bikin Menkeu Takut

News - RCI & Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
26 May 2022 08:40
Indonesian Finance Minister Sri Mulyani Indrawati answers questions during an interview at the World Bank in Washington, U.S., April 22, 2022. REUTERS/Evelyn Hockstein

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani buka-bukaan soal ancaman ekonomi baru saat ini. Semua datang pasca pandemi Covid-19.

Ia mengelompokkan ini sebagai triple challenges. Hal itu adalah lonjakan inflasi, suku bunga tinggi, dan pertumbuhan ekonomi yang melemah.


Khusus inflasi, Sri Mulyani mengatakan telah terjadi kenaikan harga barang yang dipengaruhi beberapa faktor. Seperti perang Rusia-Ukraina dan inflasi global.

"Dulu tantangan dan ancaman bagi masyarakat adalah pandemi, sekarang tantangan dan ancaman bagi masyarakat adalah kenaikan barang-barang tersebut," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers usai Sidang Kabinet Paripurna beberapa waktu lalu, dikutip CNBC Indonesia, Kamis (26/5/2022).

"Ini telah memberikan dampak di satu sisi APBN penerimaan negara akan naik. [...] Namun di sisi lain, masyarakat juga akan merasakan rambatan dari inflasi global."

Sri Mulyani mengungkapkan pemerintah akan memprioritaskan skema pemberian bantuan sosial (bansos) tunai atau BLT maupun Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Ini diharap bisa jadi bantalan ekonomi untuk menjaga daya beli.

Fleksibilitas APBN masih menjadi kunci menjaga perekonomian dalam negeri. Sri Mulyani mengaku berencana untuk menggunakan berbagai tambahan penerimaan dari kenaikan harga komoditas untuk menambal bantuan kepada masyarakat.

Sementara pemerintah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2020, pada 2023 defisit APBN harus kembali maksimum 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).

"Dari sisi APBN kita akan merumuskan langkah tambahan penerimaan ini bisa dialokasikan dengan tepat. Kita masih ada Rp 455 triliun melakukan program ekonomi ini difokuskan ke program seperti labor intensive, atau program yang meningkatkan ketahanan," jelasnya.

Dalam catatan Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi RI April menembus 0,95% (month to month/mtm) atau menjadi yang tertinggi sejak Januari 2017. Secara tahunan (yoy), inflasi melonjak 3,47% di April, tertinggi sejak Agustus 2019.

Inflasi diyakini masih akan melonjak di Mei sebagai dampak Lebaran serta pelonggaran mobilitas. Sebagai catatan, konsumsi masyarakat Indonesia secara tradisi akan mencapai puncak menjelang Lebaran. Kondisi tersebut akan membuat inflasi melambung.

Bank Indonesia (BI) sendiri memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di bulan Mei, lusa lalu. Namun, bank sentral diperkirakan tidak akan bertahan lama dalam menahan suku bunga seiring meningkatnya inflasi dan tren suku bunga tinggi di tingkat global.

Di kuartal 1 2022, pertumbuhan ekonomi RI tercatat tumbuh 5,01% (Roy). Sebelumnya di kuartal 1 2022, ekonomi melemah 0,74%.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Sri Mulyani ke Delegasi G20: Jangan Kaget, Jakarta Kini Hijau


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading