Internasional

Warning Bos Aramco Soal Ancaman Krisis Minyak Global

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
24 May 2022 20:53
FILE PHOTO: Logo of Saudi Aramco is seen at the 20th Middle East Oil & Gas Show and Conference (MOES 2017) in Manama, Bahrain, March 7, 2017. REUTERS/Hamad I Mohammed/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, mengatakan dunia menghadapi krisis pasokan minyak besar. Ini terjadi akibat sebagian besar perusahaan takut untuk berinvestasi di sektor tersebut karena harus menghadapi tekanan energi hijau.

Kepala produsen minyak terbesar dunia itu mengatakan dia berpegang teguh pada target peningkatan kapasitas menjadi 13 juta barel per hari dari 12 juta barel saat ini pada tahun 2027, meskipun ada seruan untuk melakukannya lebih cepat.

"Dunia berjalan dengan kapasitas cadangan kurang dari 2%. Sebelum Covid, industri penerbangan mengonsumsi 2,5 juta barel per hari lebih banyak dari hari ini. Jika industri penerbangan menambah kecepatan, Anda akan menghadapi masalah besar," kata Nasser kepada Reuters di sela-sela Forum Ekonomi Dunia di Davos, Selasa (24/5/2022).


"Apa yang terjadi di Rusia-Ukraina menutupi apa yang akan terjadi. Kami mengalami krisis energi karena kurangnya investasi, dan itu mulai menggigit setelah pandemi," tambahnya.

Nasser mengatakan pembatasan Covid di China tidak akan bertahan lama. Oleh karena itu permintaan minyak global akan kembali melanjutkan pertumbuhannya.

Arab Saudi saat ini memproduksi 10,5 juta barel per hari, atau setiap sepersepuluh barel di dunia. Kemungkinan salah satu negara Timur Tengah itu akan meningkatkan produksi menjadi 11 juta barel per hari akhir tahun ini, ketika pakta antara OPEC dan sekutu seperti Rusia berakhir.

Riyadh sendiri telah menghadapi seruan dari Barat untuk meningkatkan produksi lebih cepat dan memperluas kapasitas lebih cepat untuk membantu memerangi krisis energi.

"Jika kami bisa melakukannya (memperluas kapasitas) sebelum 2027 kami akan melakukannya. Ini yang kami katakan kepada pembuat kebijakan. Itu butuh waktu," imbuhnya.

Nasser juga mengatakan dialog antara industri minyak dan pembuat kebijakan mengenai transisi dari bahan bakar fosil ke energi yang tidak menghasilkan emisi karbon agak bermasalah.

"Saya tidak berpikir ada banyak dialog konstruktif yang terjadi. Di area tertentu kami tidak dibawa ke meja. Kami tidak diundang ke COP di Glasgow," katanya merujuk pada konferensi iklim PBB tahun lalu di Glasgow, Skotlandia. .

Dia juga mengatakan pesan tahun lalu dari Badan Energi Internasional bahwa permintaan minyak dunia akan turun dan tidak ada investasi baru dalam bahan bakar fosil yang diperlukan berdampak besar.

"Kami membutuhkan dialog yang lebih konstruktif. Mereka mengatakan kami tidak membutuhkan Anda pada tahun 2030, jadi mengapa Anda pergi dan membangun proyek yang memakan waktu 6-7 tahun. Pemegang saham Anda tidak akan mengizinkan Anda melakukannya," jelasnya.

Oleh karena itu, proses transisi energi seringkali terbukti kacau dan mengganggu. "Tidak ada rencana yang bagus... Ketika Anda tidak memiliki rencana B, jangan menjelek-jelekkan rencana A... Tekanan dan retorikanya adalah: jangan berinvestasi, Anda akan memiliki aset yang terdampar. Itu membuat CEO sulit untuk melakukan investasi," tandasnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Harga Minyak Menggila, Laba Saudi Aramco To The Moon


(tfa/tfa)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading