Internasional

Sri Lanka Terancam Hadapi 'Kematian Massal', Ini Penyebabnya

News - luc, CNBC Indonesia
23 May 2022 16:10
A Sri Lankan man reacts to tear gas as he walks past the vandalized site of anti-government protests outside president's office in Colombo, Sri Lanka, Monday, May 9, 2022. Authorities deployed armed troops in the capital Colombo on Monday hours after government supporters attacked protesters who have been camped outside the offices of the country's president and prime minster, as trade unions began a “Week of Protests” demanding the government change and its president to step down over the country’s worst economic crisis in memory. (AP Photo/Eranga Jayawardena) Foto: AP/Eranga Jayawardena

Jakarta, CNBC Indonesia - Situasi di Sri Lanka kian mengkhawatirkan menyusul terjadinya krisis ekonomi terbesar sejak negara tersebut merdeka.

Hal tersebut menyebabkan ketersediaan obat-obatan menipis, bahkan sudah pada titik kritis. Hal tersebut dikhawatirkan memicu kematian massal karena banyak rumah sakit terpaksa menunda prosedur penyelamatan nyawa bagi pasien.

Adapun, Sri Lanka mengimpor lebih dari 80% pasokan medisnya tetapi dengan cadangan mata uang asing yang habis karena krisis. Alhasil, obat-obatan penting menghilang dan sistem perawatan kesehatan hampir runtuh.


Di rumah sakit kanker Apeksha dengan 950 tempat tidur di pinggiran ibukota komersial, Kolombo, para dokter dan pasien sudah tak berdaya menghadapi kurangnya pasokan obat-obatan.

"Sangat buruk bagi pasien kanker," kata Roshan Amaratunga, salah seorang dokter yang bekerja di sana, dikutip dari Reuters, Senin (23/5/2022).

"Kadang-kadang, di pagi hari kami merencanakan beberapa operasi (tetapi) kami mungkin tidak dapat melakukannya pada hari itu ... karena (persediaan) tidak ada."

Menurutnya, jika situasinya tidak segera membaik, beberapa pasien akan menghadapi hukuman mati virtual.

Seorang pejabat pemerintah yang bekerja pada pengadaan pasokan medis mengatakan sekitar 180 jenis obat hampir habis, termasuk suntikan untuk pasien cuci darah, obat untuk pasien yang telah menjalani transplantasi, dan obat kanker tertentu.

Pejabat itu, Saman Rathnayake, mengatakan kepada Reuters bahwa India, Jepang, dan donor multilateral membantu menyediakan pasokan, tetapi bisa memakan waktu hingga empat bulan untuk barang tiba.

Sementara itu, Sri Lanka telah meminta donor swasta, baik di dalam maupun luar negeri, untuk membantu.

Seperti diketahui, Sri Lanka sedang bergulat dengan krisis ekonomi terburuk sejak kemerdekaan pada tahun 1948, yang disebabkan oleh Covid-19 yang menghancurkan pariwisata, kenaikan harga minyak, serta pemotongan pajak populis dan larangan impor pupuk kimia.

 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Penampakan Sri Lanka Terkini: Situasi Darurat, Jalanan Sepi


(luc/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading