Larang Ekspor Gandum India Belajar dari Bengal Famine 1943?

News - Aulia Mutiara, CNBC Indonesia
20 May 2022 10:15
Ilustrasi Gandum (Photo by Avinash Kumar on Unsplash)

Jakarta, CNBC Indonesia - India melarang ekspor gandum menyusul rusaknya panen akibat gelombang panas, di tengah kenaikan harga akibat konflik Russo-Ukraina. Doktrin ketahanan pangan dan aturan perdagangan dunia menemui titik tegangan tertinggi.

India melarang ekspor gandum karena pemerintah India memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pasar domestik di tengah gelombang panas. Perdana Menteri Narendra Modi memilih menjaga ketahanan pangan bagi rakyatnya.

Di sisi lain, dia harus meredam gejolak inflasi di dalam negeri akibat perang Rusia dan Ukraina. Inflasi India saat ini melesat hingga 7,79%. Hal ini dilakukan pemerintah India karena ekspor gandum yang tidak diatur telah menyebabkan kenaikan harga lokal, meskipun hingga saat ini belum ada penurunan dramatis pada produksi dalam negeri.


Kebijakan India melarang sementara ekspor gandum guna meredam kenaikan harga di dalam negeri memicu kenaikan lanjutan harga gandum dunia-yang telah mencetak rekor tertinggi baru.

Grafik harga gandumFoto: Grafik harga gandum
Grafik harga gandum

Di pasar spot, harga gandum mencapai 25.000 rupee atau US$ 320 per ton, jauh di atas harga dukungan minimum pemerintah sebesar 20.150 rupee.

Meski bukan eksportir gandum utama dunia, kebijakan India tetap memengaruhi pasokan global. Pasalnya, pasokan gandum Ukraina telah terganggu akibat perang dan eksportir lainnya mengalami banjir dan panas yang mengancam panen.

Setelah mendapatkan berbagai protes dari negara lain, pemerintah India mengendur dan menyatakan bahwa larangan tersebut bisa direvisi. Ekspor yang dilengkapi dengan letter of credit (L/C) yang sudah terbit pun masih diperbolehkan.

Sikap reaktif India atas ancaman krisis pangan ini tak terlepas dari sejarah negara bekas koloni Inggris tersebut. Pada Perang Dunia II, India harus menelan kepahitan di mana setidaknya 3 juta orang warganya mati akibat kelaparan.

Dunia mencatatnya sebagai Bengal Famine, pada tahun 1943. Kelaparan dipicu oleh kombinasi faktor alam, sosial politik, serta Otoritas Inggris, yang waktu itu menjajah India, dan bertanggung jawab atas tragedi tersebut yang tidak berpihak pada rakyatnya.

Badai topan telah melanda Bengal pada tahun 9 Januari 1943, membanjiri sawah dengan air asin. Kondisi ini menewaskan 14.500 orang, serta berjangkitnya jamur Helminthosporium Oryzae, yang menghancurkan tanaman padi yang tersisa.

Biasanya, Benggala mengimpor beras dari negara tetangga, yakni Burma, yang juga koloni Inggris. Namun, Tentara Jepang telah menguasai kawasan tersebut sehingga ekspor beras tidak dimungkinkan.

Pemerintah Inggris pun gegabah mengambil keputusan sehingga bencana kelaparan tak terhindarkan. Mereka memerintahkan penghancuran semua perahu dan stok beras di Benggala karena khawatir Jepang akan mendarat dan menguasai logistik. Akibatnya, orang-orang Benggala kelaparan di bumi mereka sendiri.

Ironisnya, mengutip Greelane, India sebenarnya tidak kekurangan pasokan beras pada tahun 1943. Sayangnya, stok yang tersisa justru diekspor, dengan volume lebih dari 70.000 ton beras, untuk memberi makan pasukan Inggris di 7 bulan pertama tahun itu.

Pengiriman gandum dari Australia ke Inggris juga sebenarnya melewati pantai India, tetapi tidak berhenti untuk memberi makan mereka yang kelaparan. Yang paling mengerikan, Amerika Serikat dan Kanada sempat menawarkan bantuan makanan kepada pemerintah Inggris khusus untuk Benggala. Namun, London menolak tawaran itu.

Kelaparan Benggala pun berakhir pada tahun 1944. Inggris sampai sekarang tidak pernah sekalipun meminta maaf atas tragedi itu. Hal ini menjadi luka sejarah tersendiri bagi India terutama Benggala.

Pelajaran Serupa dari Irlandia

Dari Eropa, dunia juga belajar dari kelaparan di Irlandia yang menyebabkan sejuta lebih warganya meninggal dunia. Saat itu terjadi wabah Potato Blight (layu daun) yang membuat seperempat populasi Irlandia hilang, baik karena tewas maupun migrasi.

Bencana ini meninggalkan bayangan panjang dalam ingatan Irlandia, khususnya hubungannya dengan Inggris. Pada abad ke-19, kentang merupakan tanaman yang sangat penting bagi Irlandia serta merupakan makanan pokok bagi masyarakat bawah.

Sebagian besar kelas pekerja memiliki lahan pertanian yang kecil untuk menanam varietas kentang bernama Lumper Irlandia.

Grafik produksi kentang IrlandiaFoto: Grafik produksi kentang Irlandia
Grafik produksi kentang Irlandia

Hingga akhirnya, tahun 1844, ada laporan pertama kali munculnya penyakit yang merusak kentang di pantai timur AS. Setahun kemudian, penyakit tersebut muncul di Irlandia yang merusak panen kentang di negara tersebut.

Hal ini menyebabkan orang-orang kelas bawah kesulitan pangan dan berujung pada kelaparan. Di tengah kondisi ini, Irlandia masih terus melakukan ekspor. Beberapa orang ikut memanfaatkan kondisi untuk mendapatkan keuntungan terutama kaum bangsawan.

Irlandia yang saat itu berada di bawah kekuasaan Inggris meminta bantuan kepada monarki Inggris. Saat itu, belum ada konsep welfare state (negara menjamin kesejahteraan rakyatnya) dan yang berlaku adalah prinsip laissez-faire, di mana pasar diyakini bisa menyediakan makanan yang diperlukan.

Saat itu, program makanan dan pekerjaan yang diperkenalkan oleh pemerintah Tory sebelumnya dihentikan, ekspor makanan ke Inggris dilanjutkan dan Undang-Undang Jagung tetap berlaku. Hal ini akhirnya memperburuk krisis di Irlandia. Ratusan ribu orang dibiarkan tanpa akses ke pekerjaan, makanan, atau uang.

Kondisi ini menyebabkan kesulitan dan kesengsaraan yang tiada terhitung. Dampak gagal panen kentang terasa semakin nyata, sebagian besar orang miskin dan kelas pekerja hanya mengandalkan kentang untuk mengisi perut mereka.

Gelombang emigrasi massal yang dipicu oleh Kelaparan Besar berlanjut selama beberapa tahun setelah kelaparan. Pada tahun 1870-an lebih dari 40% orang Irlandia tinggal di luar negeri dan hari ini lebih dari 100 juta orang di seluruh dunia merupakan keturunan Irlandia.

Kelaparan menyebabkan kematian berjuta-juta jiwa. Sejarawan memperkirakan populasi Irlandia turun antara 20-25% selama kelaparan. Kota-kota kehilangan hingga 60% dari populasi mereka.

GrafikFoto: Grafik
Grafik

Irlandia masih belum mencapai tingkat populasi sebelum kelaparan. Pada April 2021, barulah Republik Irlandia memiliki populasi lebih dari 5 juta untuk pertama kalinya sejak tahun 1840-an.

Krisis kelaparan tersebut semestinya menjadi pelajaran penting bagi seluruh negara di dunia, khususnya Indonesia, untuk mengedepankan kepentingan nasional dalam hal pangan. Kecuali, kita ingin mengulang tragedi kelaparan India dan Irlandia, di Indonesia.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ada Larangan Ekspor Gandum India, Begini Respons Mendag


(dce/dce)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading