China Kritis Gegara Covid-19, Begini Dampaknya Bagi Indonesia

News - Damiana Cut Emeria, CNBC Indonesia
19 May 2022 06:55
Pedagang melayani pembeli kantong plastik di Pasar Jaya Slipi, Jakarta, Rabu (9/3/2022). Lonjakan harga minyak mentah mendongkrak kenaikan harga bahan baku plastik. Baik untuk jenis Low Density Polyethylene (LDPE), Linear Low Density Polyethylene (LLDPE), High Density Polyethylene (HDPE), maupun Polypropylene (PP). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan kasus Covid-19 hingga lockdown di China dilaporkan telah membuat perekonomian negara itu memburuk. Hanya saja, kondisi kritis itu dinilai masih memberi peluang bagi Indonesia. Terutama, industri plastik hilir di dalam negeri.

Pasalnya, selama ini, pasar barang plastik jadi di dalam negeri diisi barang-barang impor asal China.

Menurut Sekjen Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono setidaknya ada 115 nomor HS produk barang jadi plastik asal China yang dikonsumsi Indonesia.


"Banyak banget, mulai dari mainan anak, terpal, kemasan termasuk yang fleksibel (kantong), alat medis, aksesoris kendaraan bermotor, hingga kemasan kosmetik. Jika China melanjutkan lockdown, ini akan memberi peluang bagi industri plastik hilir di dalam negeri," kata Fajar kepada CNBC Indonesia, Selasa (17/5/2022).

Menurut Fajar, penguncian wilayah oleh China akan menekan impor barang plastik jadi dari Indonesia. Di sisi lain, permintaan di dalam negeri tetap tumbuh.

"Pasokan barang yang tadinya diisi China, sekarang oleh industri lokal. Dampaknya, utilisasi pabrik tertolong, ada yang melonjak sampai mendekati 90%. Bahkan produk hygiene seperti masker, botol farmasi, botol sanitizer, dan infus bisa sampai 100%," jelasnya.

Bahkan, lanjut dia, industri di dalam negeri juga bisa menjangkau pasar ekspor yang selama ini diisi barang dari China.

Hanya saja, dia menambahkan, jika kritis dan lockdown di China terus berlanjut akibat Covid-19, pemerintah perlu mengantisipasi pasokan peralatan mesin industri, termasuk sparepart (onderdil)-nya.

Pasalnya, lanjut dia, China saat ini juga tengah bersiap meninggalkan pasar barang konsumsi low-end.

"Ini peluang bagi Indonesia, jangan sampai diambilalih oleh Vietnam, Kamboja, Myanmar, juga Laos. Contoh garmen, China sudah tidak lagi fokus produksi massal karena ongkosnya mahal. Ke depan, China tak lagi garap pasar low-end. Ini kita harus isi segmen ini di dalam negeri," kata Fajar.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ukraina yang Perang, Pabrik-pabrik di RI yang Nangis Darah


(dce/dce)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading