Internasional

Negara Arab Ini Tolak China di Proyek Migasnya

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
17 May 2022 20:38
ladang minyak Nahr Bin Omar di Irak

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Irak menegaskan posisinya terkait rencana perusahaan China untuk mengambil alih beberapa ladang minyak di negara itu. Hal ini untuk menghindari stigma bahwa industri minyak di Negara Seribu Satu Malam tersebut telah berada dalam penguasaan Beijing.

Dalam sebuah laporan Reuters, beberapa pejabat Baghdad mengatakan stigma kontrol China akan membuat Irak kesulitan dalam mendapatkan investasi asing. Hal ini ditambah oleh penguatan hubungan militer Negeri Tirai Bambu dengan tetangga Irak, Iran.


"Kami tidak ingin sektor energi Irak dicap sebagai sektor energi yang dipimpin China dan sikap ini disetujui oleh pemerintah dan kementerian perminyakan," kata seorang pejabat Irak dikutip Selasa, (17/5/2022).

"Pemerintah khawatir dominasi China dapat membuat Irak kurang menarik bagi investasi dari tempat lain," ujar dua pejabat pemerintah lainnya.

Sejak awal 2021, perusahaan minyak China seperti Sinopec berniat untuk mengambil-alih beberapa ladang minyak yang sebelumnya dimiliki perusahaan Rusia, Lukoil dan perusahaan Amerika Serikat (AS), ExxonMobil. Ladang itu berlokasi di Rumaila dan West Qurna.

Bila digabungkan, kedua ladang itu menghasilkan sekitar setengah dari minyak mentah yang keluar dari Irak. Irak sendiri merupakan negara dengan cadangan minyak terbesar kelima di dunia.

Meski begitu, dalam sektor lain, China saat ini merupakan investor utama infrastruktur Irak melalui proyek Belt and Road Initiative (BRI). Sejauh ini dana yang diberikan oleh Beijing kepada negara itu mencapai US$ 10,5 miliar yang digunakan untuk pembiayaan pembangkit listrik dan bandara.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Astaga! Roket Tembak Kantor Perusahaan Minyak China di Irak


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading