Kejamnya Covid Gak Kira-kira, Sri Mulyani Ungkap Situasi Ini

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
11 May 2022 22:03
Menteri Keuangan Sri Mulyani di acara CNBC Indonesia Economic Outlook, Selasa (22/3). (CNBC Indonesia/Tri Susilo))

Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi Covid-19 telah meluluhlantakkan perekonomian dunia. Banyak pula populasi manusia di dunia yang kehilangan pekerjaannya karena masifnya perusahaan-perusahaan yang bangkrut.

Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam webinar Internasional side-event Presidensi G20, Rabu (11/5/2022).

Sri Mulyani menceritakan, pukulan terberat dipikul oleh para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sektor penyumbang 60% ekonomi di Indonesia mengalami kebangkrutan, akibatnya 97% tenaga kerja ikut dirumahkan.

"Di mana satu dari lima perempuan di Indonesia tercatat menutup bisnisnya. Banyak wanita dan anak muda kehilangan pendapatannya menjadi lebih rentan. Pandemi merenggut banyak pekerjaan dan meningkatkan angka kemiskinan, juga mempersulit dunia usaha untuk menembus pasar keuangan," jelas Sri Mulyani.



Oleh karena itu, fokus otoritas tanah air saat ini, kata Sri Mulyani adalah meningkatkan akses keuangan bagi UMKM, serta menciptakan multiplier effect berupa penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi untuk memulihkan ekonomi yang sangat terpukul akibat pandemi.

Di samping itu, pemerintah dan dunia juga perlu memberikan perhatian besar kepada perempuan, karena perannya yang sangat penting dalam pengembangan ekonomi. Caranya dengan meningkatkan akses layanan jasa keuangan terhadap perempuan.

Pasalnya, Sri Mulyani mencatat, berdasarkan studi McKinsey, jika seluruh negara meningkatkan kesetaraan bagi perempuan, terdapat potensi penambahan US$ 12 triliun atau 11% terhadap PDB secara global.

"Jika seluruh negara dapat memaksimalkan potensi perempuan dalam ekonomi dan pasar tenaga kerja, akan tercipta aktivitas ekonomi hingga US$ 28 triliun atau setara 26% PDB dunia pada 2025," jelas Sri Mulyani.

Sri Mulyani memandang, hambatan perempuan dalam mengakses layanan keuangan formal, karena perempuan seringkali tidak memiliki kartu identitas sehingga tidak bisa memiliki aset atas nama dirinya, sehingga tidak bisa menjadi agunan perbankan.

Pemerintah dan para pelaku usaha perlu fokus meningkatkan akses terhadap perempuan, sebagai salah satu upaya mendorong pemulihan ekonomi nasional. Langkah itu bukan hanya baik dari sisi inklusi keuangan, tetapi juga dapat memicu tumbuhnya iklim bisnis yang baik, seiring makin kuatnya layanan jasa keuangan formal.

"Masyarakat yang paling rentan perlu mendapatkan akses layanan keuangan. Ini tidak hanya benar secara moral, tapi juga menjadi penting secara strategis untuk pemulihan ekonomi yang inklusif," jelas Sri Mulyani.




BI Tingkatkan Transformasi Digital Bagi UMKM

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan pihaknya akan terus berupaya memaksimalkan potensi UMKM melalui transformasi digital.

Hal yang didorong BI dalam meningkatkan potensi UMKM yakni dengan memperluas akses pasar UMKM dengan digitalisasi.

"Digitalisasi UMKM meningkatkan produktivitas dan efisiensi dan memperluas dalam skala internasional," tuturnya.

Selain itu, BI juga berupaya dengan mempermudah pembiayaan bagi UMKM. Pihaknya menyiapkan infrastruktur bagi UMKM dalam transformasi digitalnya. Seperti mengadopsi Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) yang lebih luas.

Perry mencatat, hingga 18 Maret 2022, sudah terdapat 16,1 juta merchant yang terdaftar QRIS dan 89,89% di antaranya adalah UMKM. "QRIS adalah jawaban sebagai gerbang ekosistem ekonomi dan keuangan keuangan digital," ujarnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Kapan Covid Tak Lagi Ancam Ekonomi RI? Ini Kata Sri Mulyani!


(cap/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading