Produksi Migas Setop Mendadak di Pertamina, BP-Exxon, Kenapa?

News - Verda Nano Setiawan, CNBC Indonesia
28 April 2022 12:50
Infografis: Mengintip tulang punggung Minyak RI

Jakarta, CNBC Indonesia - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) melaporkan adanya gangguan produksi serempak di produsen migas "raksasa". Bahkan, sejumlah lapangan migas yang dikelola sejumlah "raksasa" migas RI ini harus menghentikan produksi.

Akibatnya, realisasi produksi siap jual atau lifting migas RI selama kuartal I 2022 ini tak mencapai target.

Deputi Operasi SKK Migas Julius Wiratno mengakui bahwa gangguan produksi yang terjadi pada kontraktor migas jumbo seperti Pertamina Hulu Rokan (PHR), ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), Pertamina Hulu Energi ONWJ (PHE ONWJ), dan BP Indonesia telah berdampak pada capaian lifting nasional kuartal I.


"Banyak sekali gangguan operasional di Q1 2022 kemarin dan juga masih sampai hari ini dan lebih-lebih terjadi pada KKKS yang produksinya besar-besar seperti PHR, EMCL, ONWJ dan BP yang notabene sudah mempunyai CMMS (Computerized Maintenance Management System) yang sudah sangat bagus," ungkap Julius kepada CNBC Indonesia, Kamis (28/4/2022).

Berdasarkan data SKK Migas, lifting minyak pada kuartal I 2022 baru mencapai 611,7 ribu barel per hari (bph) atau baru mencapai 87% dari target sebesar 703 ribu bph. Sementara, untuk gas mencapai 5.321 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) atau 92% dari target 5.800 MMSCFD.

Julius membeberkan bahwa penyebab gangguan produksi cukup bermacam-macam. Mulai dari terjadinya pemadaman listrik karena penangkal petir yang terbakar, tiang listrik tertabrak truk. Kemudian, terjadinya pemadaman listrik (blackout) karena sambungan kabel yang terbakar dan adanya tanah longsor yang menyebabkan pipa tidak aman untuk dioperasikan.

"Yang masih klasik ya kebocoran pipa-pipa uzur di beberapa daerah operasi yang memang sedang dijadwalkan untuk diganti, tapi sudah bocor duluan. Banyaklah detailnya se-Indonesia," jelasnya.

Seperti diketahui, salah satu yang menjadi sorotan SKK Migas saat ini adalah banyaknya penghentian operasi yang tak diduga (unplanned shutdown) yang terjadi di beberapa lapangan minyak. Hal ini pun berdampak terhadap kinerja lifting minyak di awal tahun 2022.

Sejumlah kejadian penghentian operasi yang tak direncanakan tersebut di antaranya terjadi di Blok Cepu pada lapangan Kedung Keris yang dioperasikan ExxonMobil Cepu Ltd, kemudian Offshore North West Java (ONWJ) yang dioperasikan Pertamina Hulu Energi ONWJ, serta di Blok Rokan yang dioperasikan Pertamina Hulu Rokan. Bahkan, capaian produksi Blok Rokan sempat menyentuh angka 140 ribu bph, sementara belakangan ini sudah mulai mendekati 160 ribu bph.

Adapun jika lapangan-lapangan minyak yang jadi kontributor terbesar dalam lifting mengalami masalah, maka sudah dipastikan lifting minyak nasional akan turut berdampak. Apalagi, Blok Cepu pada kuartal pertama tahun ini telah kehilangan produksi hingga 11 ribu bph.

Selain itu, gangguan produksi pada kontraktor gas terbesar juga terjadi pada BP Indonesia. Perusahaan asal Inggris ini mengalami kendala teknis berupa kegiatan perawatan menyeluruh (turn around). Kondisi ini lantas membuat saluran gas perusahaan turun.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

2021 Melempem, Produksi Minyak 2022 Digenjot ke 703.000 Barel


(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading