Pakai Alat Penangkal Emisi, Biaya Produksi Listrik Bengkak!

News - Verda Nano Setiawan, CNBC Indonesia
27 April 2022 11:30
Ilustrasi (Photo by Pixabay from Pexels)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana pemerintah dalam menerapkan teknologi carbon capture, utilization, and storage (CCUS) atau penangkapan dan pemanfaatan karbon untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dinilai akan sulit terealisasi. Alasannya, dengan memakai teknologi CCUS atau penangkal rendah emisi itu bisa mengerek ongkos produksi listrik.

Menurut analis energi Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA), Putra Adhiguna jika teknologi CCUS diterapkan di PLTU, setidaknya hal ini akan mengerek tambahan besaran biaya pokok produksi (BPP) tenaga listrik hingga US$ 9 sen per kilo watt hour (kWh).

"Kalau berbicara mengenai pembangkit setidaknya US$ 6-9 sen per kWh bahkan sangat mungkin lebih besar," kata Putra dia dalam media briefing membedah nilai keekonomian teknologi penyimpanan karbon untuk sektor energi, Selasa (26/4/2022).


Selain peningkatan biaya listrik antara 6-9 sen/kWh bahkan lebih, penggunaan CCUS di pembangkit listrik juga akan dapat menurunkan kapasitas pembangkitan listrik, bahkan lebih dari 20-30%. Pasalnya, implementasi dari proyek ini membutuhkan energi yang cukup besar.

"Jadi cost-nya besar, dari konsumsi energi juga besar, ini yang menjadi tantangan," kata Putra.

Di samping itu, menurut dia CCUS juga memiliki ranting aplikasi yang sangat bervariasi. Seperti untuk pemrosesan gas hingga pembangkit listrik, dan masing-masing memiliki tingkat kematangan dan biaya yang berbeda.

Oleh sebab itu, dalam penyampaian rencana yang ada, maka harus jelas jenis CCUS yang mana yang akan diaplikasikan karena tanpa kejelasan, hal tersebut dapat menimbulkan kerancuan pemahaman publik.

Biaya CCUS sendiri bervariasi mulai dari di bawah US$ 50 hingga lebih dari US$ 100 per ton karbondioksida (CO2) yang tertangkap. Sementara, selama ini ada klaim yang memunculkan kerancuan di publik bahwa biaya CCUS untuk pembangkit listrik terus turun.

Padahal, klaim itu menurut Putra kebanyakan hanyalah berbasis studi, dan menimbulkan banyak pertanyaan menyusul penutupan proyek CCUS kelistrikan unggulan di Amerika Serikat.

Pada 2021 misalnya, AS menutup proyek CCUS Petra Nova di Texas dengan alasan keekonomian setelah hanya tiga tahun beroperasi. Proyek pemasangan CCUS senilai US$ 1 miliar tersebut telah mendapat US$ 190 juta bantuan dana pemerintah AS, namun tetap gagal beroperasi.

Biaya untuk penggunaan CCUS tersebut sangat besar mengingat penggunaannya hanya untuk PLTU batu bara berkapasitas 240 MW.

"Amerika Serikat telah mengucurkan setidaknya US$ 1,1 miliar dana publik untuk menopang berbagai rencana CCUS di kelistrikan dan industri, tetapi tidak ada satu pun dari delapan proyek kelistrikan yang didukung berjalan hari ini," kata Putra.

Sementara, Uni Eropa telah menghabiskan setidaknya €424 juta dengan kemajuan tidak seperti yang direncanakan, sebagaimana dinyatakan oleh European Court of Auditors. Sementara kebanyakan negara di Asia Tenggara kemungkinan tidak akan mampu memberikan dana publik yang besar untuk mendukung pengembangan CCUS.

Dengan biaya yang tinggi, proyeksi perkembangan CCUS sangat mungkin akan berbeda dengan teknologi energi terbarukan lain yang dapat diproduksi dalam unit dan biaya yang lebih kecil.

"Mengembangkan dan memperbaiki secara bertahap turbin angin senilai US$ 3 hingga US$ 4 juta sangat mungkin akan lebih mudah dibandingkan proyek uji coba CCUS yang berbiaya ratusan juta dolar," ujar Putra.

Tiga pemimpin potensial proyek CCUS di Asia, yakni Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan, masih harus mengejar banyak ketertinggalan. Perkembangan CCUS di tiga negara ini menjadi penting, terutama menyusul cepatnya Amerika Serikat meninggalkan batu bara, dan mungkin perhatian mereka pada CCUS PLTU, yang merupakan bagian terbesar dari bauran listrik di Asia Tenggara.

Karena itu, Putra menyarankan agar pemerintah berhati-hati menaksir biaya keseluruhan CCUS karena teknologi ini mengkonsumsi energi dalam jumlah signifikan, yang emisinya juga perlu dihitung. Di Asia Tenggara, hal ini teramat penting mengingat standar emisi yang longgar yang kemungkinan memerlukan peralatan tambahan untuk penggunaan CCUS.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Tingkatkan Produksi, Sejumlah Lapangan Migas Kepincut CCUS


(pgr/pgr)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading