Internasional

'Hukuman' untuk Rusia Berbalik Jadi Hantu Resesi bagi Eropa

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
14 April 2022 16:50
FILE PHOTO: The logo of the Nord Stream 2 gas pipeline project is seen on a pipe at the Chelyabinsk pipe rolling plant in Chelyabinsk, Russia, February 26, 2020. REUTERS/Maxim Shemetov/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Eropa, khususnya Jerman, terancam mengalami resesi yang tajam bila Pemerintah Rusia benar-benar memutuskan untuk memotong aliran gas ke wilayah itu. Hal ini terjadi pasca tegangnya hubungan Berlin dengan Moskow akibat serangan Rusia ke Ukraina.

Dalam Prakiraan Ekonomi Bersama dua tahunan mereka yang diterbitkan Rabu (13/4/2022), lima lembaga ekonomi terbesar Jerman secara tajam mengurangi perkiraan produk domestik bruto mereka karena perang di Ukraina memperlambat pemulihan dari Covid-19.


RWI di Essen, DIW di Berlin, Institut Ifo di Munich, IfW di Kiel dan IWH di Halle sekarang memperkirakan PDB Jerman akan tumbuh sebesar 2,7% pada 2022 dan 3,1% pada 2023. Sebelumnya, lembaga tersebut sebelumnya memproyeksikan pertumbuhan 4,8% pada tahun 2022.

Angka ini pun disimpulkan dengan asumsi bahwa tidak ada eskalasi ekonomi lebih lanjut terkait perang di Ukraina dan aliran gas ke Eropa dari Rusia terus berlanjut. Diketahui, Jerman selama ini menggantungkan hingga 40% gasnya dari Moskow.

"Jika pasokan gas diputus, ekonomi Jerman akan mengalami resesi yang tajam. Dalam hal kebijakan ekonomi, penting untuk mendukung struktur produksi yang dapat dipasarkan tanpa menghentikan perubahan struktural," kata Stefan Kooths, wakil presiden dan direktur riset untuk siklus bisnis dan pertumbuhan di Kiel Institute seperti dikutip CNBC International, Kamis (14/4/2022).

"Perubahan ini akan mempercepat industri padat gas bahkan tanpa boikot, karena

ketergantungan pada pasokan Rusia, yang telah tersedia dengan harga yang menguntungkan hingga saat ini, bagaimanapun juga harus diatasi dengan cepat."

Dalam situasi ini, Kooths menyarankan pemerintah Jerman untuk menghindari memberikan subsidi yang tidak tepat sasaran. Ini perlu dilakukan untuk melindungi harga energi dari kenaikan yang lebih tinggi.

"Jika skema dukungan seperti itu diberikan secara luas, itu akan semakin meningkatkan inflasi dan merusak efek sinyal penting dari harga energi yang lebih tinggi. Ini pada gilirannya memperburuk masalah rumah tangga berpenghasilan rendah dan meningkatkan biaya ekonomi secara keseluruhan," paparnya lagi.

 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Gawat! Jerman Bakal Beneran Resesi Gegara Rusia


(luc/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading