Bikin Taipan Batu Bara Kepincut, Segini Harta Karun Nikel RI

News - Pratama Guitarra, CNBC Indonesia
18 May 2022 15:40
A worker poses with a handful of nickel ore at the nickel mining factory of PT Vale Tbk, near Sorowako, Indonesia's Sulawesi island, January 8, 2014. REUTERS/Yusuf Ahmad

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah perusahaan pertambangan batu bara Indonesia kepincut berbisnis komoditas pertambangan lain yaitu nikel. Komoditas nikel diketahui memang sedang hype di tengah kebutuhannya sebagai bahan baku ekosistem kendaraan listrik.

Nah dari hal itu, menurut penelusuran CNBC Indonesia, terdapat beberapa perusahaan raksasa batu bara Indonesia yang tergiur masuk ke bisnis pertambangan nikel dan ekositem kendaraan listrik. Diantaranya adalah PT Harum Energy Tbk (HRUM), PT Petrosea Tbk (PTRO), PT Indika Energy Tbk (INDY), PT TBS Energy Utama Tbk (TOBA).

Baca link berikut: 


Kendati membuat para perusahaan raksasa batu bara Indonesia itu tergiur, berapa sih 'harta karun' nikel yang ada di Indonesia saat ini?

Harus diketahui, bahwa Indonesia sendiri ternyata tercatat sebagai pemilik salah satu 'harta karun' nikel terbesar di dunia.

Mengutip Booklet Nikel yang dirilis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) 2020, berdasarkan data USGS pada Januari 2020 dan Badan Geologi 2019, Indonesia tercatat memiliki cadangan nikel sebesar 72 juta ton nikel (termasuk nikel limonite).

Jumlah cadangan nikel RI mencapai 52% dari total cadangan nikel dunia sebesar 139.419.000 ton nikel.

Untuk kandungan bijih nikel sendiri, disebutkan bahwa Indonesia memiliki sumber daya bijih nikel mencapai 11,7 miliar ton dan cadangan 4,5 miliar ton, termasuk nikel kadar rendah (limonite nickel) dan nikel kadar tinggi (saprolite nickel).

Adapun berdasarkan data Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM, produksi logam feronikel masih menjadi terbesar di antara produk olahan logam nikel lainnya.

Produksi feronikel RI pada 2021 tercatat mencapai 1,58 juta ton, naik dari produksi di 2020 sebesar 1,46 juta ton. Sementara produksi NPI pada 2021 tercatat sebesar 799,6 ribu ton, turun dari produksi 2020 sebesar 860,5 ribu ton. Begitu juga dengan nickel matte, produksi pada 2021 turun menjadi 82,3 ribu ton dari 91,7 ribu ton pada 2020.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI), Hendra Sinadia menyatakan, ekspansi bisnis perusahaan batu bara ke pertambangan nikel, bahkan ekosistem kendaraan listrik ini karena dipicu oleh rencana bisnis jangka panjang perusahaan.

"Bagi perusahaan batu bara, berkah dari harga komoditas akhir-akhir ini sebagian digunakan untuk investasi dan investasi ke ekosistem kendaraan listrik, termasuk ke nikel, tentu jadi salah satu yang menjanjikan," tuturnya kepada CNBC Indonesia, Rabu (18/05/2022).

"Untuk jangka panjang, batu bara sebagai non-renewable energy tentu saja perannya akan secara bertahap tergantikan oleh energi terbarukan," lanjutnya.

Sementara dari sisi produksi batu bara, menurutnya perusahaan batu bara tetap akan memproduksi sesuai dengan umur cadangan batu bara yang dimiliki.

"Dalam jangka pendek prospek permintaan (batu bara) cukup menguat, meski ada sedikit pengurangan akibat kebijakan zero Covid policy di Tiongkok, tapi itu tidak akan berlangsung lama," tuturnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Daftar Harta Karun RI Bikin Kaya, Ada yang Nilainya Rp5.736 T


(pgr/pgr)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading