Mentan Sebut Pangan Global Sedang Tak Baik-Baik Saja

News - Damiana Cut Emeria, CNBC Indonesia
11 April 2022 15:42
Rapat Kerja Komisi IV DPR dengan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (Tangkapan Layar Youtube DPR RI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan, kondisi ketidakpastian dan tekanan inflasi global juga berdampak ke sektor pangan nasional. Dia mencontohkan, harga fosfat yang saat ini melonjak 3 kali lipat dan jadi tantangan dalam menetapkan alokasi pupuk subsidi.

"Situasi pangan tidak lagi baik-baik saja. Karena secara global ini terjadi laur biasa. Dan pemicu inflasi negara itu sebenarnya di pangan lebih khusus. Saat ini AS sudah 7,2, Uni Eropa 6,8%, Turki sudah 61%, Indonesia 2,3%. Harga-harga naik karena pemicunya BBM dan solar, global, dan tentu dalam negeri terkontraksi," kata Syahrul saat Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR, Senin (4/11/2022).

Kementerian Pertanian (Kementan), lanjut dia, berusaha menjamin ketersediaan meski tidak mudah. Dan, lanjut dia, pergerakan harga juga dipengaruhi tata kelola yang tidak hanya tanggung jawab Kementan, tapi juga kementerian lain.


"Belajar dari minyak goreng, walaupun tersedia banyak karena tidak dikawal akhirnya jadi seperti itu," kata Syahrul.

Kementan, imbuh dia, tidak mampu bekerja sendiri yang memiliki wewenang terbatas di produksi dan ketersediaan.

"Kalau kondisi harga naik, kami panen raya, lalu harga turun, ini jadi dinamika tersendiri lagi bagi kami," ujarnya.

Sebelumnya, FAO merilis, indeks harga pangan kembali cetak rekor di Maret 2022. Dipicu lonjakan harga minyak nabati dan serealia, sebagai efek domino perang Ukraina-Rusia. Harga pangan terdongkrak hampir 13% dengan indeks naik ke 159,3 dari Februari yang 141,4. 

Salah satu kesimpulan yang diputuskan dalam rapat kerja tersebut adalah Komisi IV DPR meminta rencana kerja Kementan tahun 2023 fokus pada peningkatan produksi, nilai tambah, dan daya saing produk pertanian. Dengan memperhatikan komoditas andalan, karakteristik, dan kebutuhan daerah masing-masing.

Target produksi komoditas utama tahun 2023 oleh Kementan adalah 56,08 juta ton padi, bawang merah 1,71 juta ton, tebu 37,15 juta ton, daging sapi/ kerbau 465,15 ribu ton, jagung 23,21 juta ton, cabai 2,93 juta ton, kopi 810,95 ribu ton, kedelai 550 ribu ton, bawang putih 45.45 ribu ton, kakao 782,01 ribu ton, dan kelapa 2,99 juta ton.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Parah! RI Hampir 2 Dekade Tak Lepas Jeratan Kedelai Impor


(dce/dce)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading