Harga Riil Rp13.000, Pertamina Nombok Gede Jual Solar Subsidi

News - Verda Nano Setiawan, CNBC Indonesia
30 March 2022 09:50
Petugas mengisi Bahan Bakar Minyak pada kendaraan di salah satu SPBU dikawasana Cikini, Jakarta Pusat, Senin (2/4/2018). Foto: CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina (Persero) meminta pemerintah untuk mengevaluasi kembali formula harga dasar Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi jenis Solar dan besaran subsidi tetap Solar.

Pasalnya, besaran subsidi tetap Solar sudah tidak lagi mencerminkan nilai keekonomian di lapangan.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, besaran subsidi tetap Solar saat ini sebesar Rp 500 per liter. Sementara selisih harga pasar atau harga Solar non subsidi dengan Solar subsidi kini sudah sangat jauh yakni mencapai Rp 7.800 per liter.


Adapun, harga Solar subsidi kini masih dipatok sebesar Rp 5.150 per liter, sedangkan harga Solar non subsidi seperti Dexlite kini sudah mencapai Rp 12.950 per liter.

Dengan kondisi tersebut, maka besaran subsidi sebesar Rp 500 sebenarnya sudah sangat memberatkan bagi Pertamina. Sekalipun, pada dasarnya kekurangan sebesar Rp 7.300 per liter akan ditutupi pemerintah lagi dalam bentuk kompensasi.

Namun demikian, bentuk kompensasi tersebut juga bakal berdampak pada arus kas Pertamina. Pasalnya, pemberian kompensasi tersebut masih membutuhkan waktu.

"Mekanisme hari ini untuk Solar itu ada subsidi tetap Rp 500 per liter. Padahal selisihnya Rp 7.800 per liter. Rp 7.300 per liter dalam bentuk kompensasi yang kemudian dari sisi penetapan angkanya nanti penggantiannya berbeda, ini perlu waktu, sehingga ini yang menggerus cash flow Pertamina," ungkapnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VII DPR RI, Selasa (29/3/2022).

Nicke pun meminta agar pemberian kompensasi ini dapat di-review kembali, sehingga tidak berdampak pada kinerja keuangan perusahaan.

Menurut Nicke, adanya selisih antara harga Solar subsidi dengan Solar non subsidi menyebabkan adanya potensi penyelewengan Solar subsidi, terutama ke sektor industri seperti tambang dan sawit.

Oleh sebab itu, dia mengusulkan agar aplikasi My Pertamina dapat digunakan dalam proses pembelian Solar bersubsidi, sehingga dapat mengidentifikasi pengguna Solar subsidi yang berhak.

Di sisi lain, dari sisi permintaan, konsumsi Solar subsidi telah melebihi 10% dari kuota yang telah ditetapkan pemerintah.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, realisasi penyaluran Solar subsidi hingga Februari 2022 mencapai 2,49 juta kilo liter (kl), 10% lebih tinggi dari kuota yang ditetapkan hingga Februari 2022.

Hingga akhir tahun pemerintah juga memperkirakan penyerapan Solar subsidi melampaui 14% dari kuota yang telah ditetapkan sebesar 15,1 juta kl atau mencapai 16,002 juta kl hingga akhir tahun ini.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Sopir Truk Resah, Solar Langka


(wia)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading