Internasional

Sanksi Bakal Diperluas, AS Belum Puas Hajar Ekonomi Rusia

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
21 March 2022 13:10
Seorang pria berjalan melewati papan yang menunjukkan nilai tukar mata uang euro terhadap rubel Rusia di sebuah jalan di Saint Petersburg, Rusia (25/2/2022). (REUTERS/Anton Vaganov)

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) dapat memperluas sanksi lebih lanjut untuk Rusia akibat menyerang Ukraina. Hal ini disampaikan oleh Deputi Penasihat Keamanan Nasional AS Daleep Singh.

Dalam sebuah wawancara dengan CBS, Singh membahas bagaimana Amerika memiliki kemampuan untuk memperluas sanksinya terhadap Rusia, termasuk mencapai "tingkat tertinggi ekonomi Rusia."

"Kami dapat memperluas sanksi kami. Ambil tindakan, ambil sanksi yang sudah kita terapkan, terapkan di lebih banyak target. Terapkan ke lebih banyak sektor," katanya, sebagaimana dikutip oleh CNN International.


"Lebih banyak bank, lebih banyak sektor yang belum kita sentuh," tambahnya.

Saat ditanya apa yang akan terjadi dengan sanksi lebih lanjut, Singh berkata, "Yah, puncak tertinggi ekonomi Rusia. Ini sebagian besar tentang minyak dan gas, tetapi ada juga sektor lain. Saya tidak ingin menentukannya, tetapi saya pikir Putin akan tahu apa itu."

Singh menggambarkan dampak sanksi dari AS dan sekutunya terhadap ekonomi Rusia. Ia mengatakan sanksi-sanksi dari mereka telah mendorong Putin untuk mengambil "beberapa tindakan putus asa."

"Dia mengasingkan ekonominya sendiri. Rusia sekarang berada di jalur cepat menuju standar hidup Soviet gaya tahun 1980-an. Ini melihat ke dalam jurang ekonomi dan itu adalah hasil dari pilihan Putin dan saya dapat melihat dari reaksinya, ke sanalah arahnya," kata Singh.

"Ini adalah perang Putin. Ini adalah sanksi Putin dan ini adalah kesulitan Putin yang dia berikan kepada orang-orang Rusia."

Rusia, yang telah melakukan operasi militer di Ukraina sejak 24 Februari, belum juga bisa melumpuhkan ibu kota Kyiv.

Serangan dari Rusia sendiri dilakukan agar tetangganya tidak pernah bergabung dengan aliansi militer NATO, serta menuntut "demiliterisasi" dan "denazifikasi" di sana.

Sejak itu, Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) mencatat ada 2.361 korban sipil di Ukraina akibat serangan Rusia sejak 24 Februari lalu. Rinciannya, 902 tewas dan 1.459 terluka.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ekonomi Rusia di Ambang Kehancuran? Ini Proyeksi Para Ekonom


(tfa/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading