Singgung SBY, Jokowi Ungkap Alasan Ngotot Pindahkan IKN

News - Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
17 March 2022 10:05
Presiden Jokowi di IKN (Dok: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tiba-tiba mengemuka saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) berbicara mengenai keputusannya memindahkan ibu kota dari DKI Jakarta ke Kalimantan Timur.

Dalam pernyataannya dalam video yang diunggah Youtube Sekretariat Presiden, Jokowi menyebut SBY menjadi salah satu kepala negara yang melakukan kajian pemindahan ibu kota, setelah Presiden Soekarno dan Soeharto.


"Zaman Presiden SBY juga melakukan kajian-kajian untuk memindahkan ibu kota karena banyak juga alasan," kata Jokowi, seperti dikutip Kamis (17/3/2022).

Lantas, bagaimana rencana SBY untuk memindahkan ibu kota kala itu?

Dalam Pidato Politik Partai Demokrat 2019 silam, SBY pernah membuka tabir rencana pemindahan ibu kota di masa pemerintahannya. Kala itu, pemerintahan SBY berencana memindahkan pusat pemerintahan ke kawasan Jawa Barat.

"Pusat pemerintahan baru yang kami pikirkan dulu terletak di kawasan Jawa Barat, dengan jarak tempuh sekitar 1,5 jam menuju arah timur," kata SBY pada Rabu (11/12/2019).

Konsep pemindahan ibu kota tersebut, kata SBY, sama seperti yang dilakukan negeri tetangga, Malaysia. Malaysia sendiri memindahkan pusat pemerintahan Putra Jaya di luar Kuala Lumpur, ibu kota negara tersebut.

"Setelah kami pikirkan dan olah selama 2 tahun, rencana ini kami batalkan," kata SBY.

SBY mengatakan, keputusan untuk membatalkan rencana pemindahan ibu kota lantaran anggaran yang dianggap belum memadai. Pasalnya, pada saat itu pemerintah merasa ada sejumlah pembangunan infrastruktur lainnya yang mendesak.

Selain itu, ada pula faktor lingkungan yang tidak mendukung. SBY mengatakan, deretan hal tersebut menjadi pertimbangan utama pemerintahannya melanjutkan kajian pemindahan ibu kota.

"Demokrat sangat mengerti jika Presiden Jokowi juga memiliki pemikiran yang sama. Beban Jakarta memang sudah terlalu berat, melebihi daya dukung yang dimilikinya," tegas SBY.

Dalam kesempatan tersebut, SBY mengatakan bahwa pembangunan ibu kota baru membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jangka waktu pembangunan, kata dia, juga memerlukan waktu yang tidak sebentar.

"Memindahkan dan membangun ibu kota baru adalah sebuah mega proyek. Tidak boleh meleset, harus sukses," kata SBY.

Presiden Indonesia yang keenam, Susilo Bambang Yudhoyono (Tangkapan Layar Youtube)Foto: Presiden Indonesia yang keenam, Susilo Bambang Yudhoyono (Tangkapan Layar Youtube)
Presiden Indonesia yang keenam, Susilo Bambang Yudhoyono (Tangkapan Layar Youtube)

Sebelumnya, Jokowi mengatakan Gagasan pemindahan ibu kota pertama kali dicetuskan oleh Presiden Soekarno pada 1957. Namun, pergolakan yang terjadi pada saat itu membuat rencana itu tak kunjung terealisasi.

Tongkat estafet rencana pemindahan ibu kota kemudian berlanjut ke Presiden Soeharto. Namun, krisis 1998 juga membuat kajian pemindahan berhenti di tempat.

Jokowi kemudian menyinggung kajian pemindahan ibu kota yang pernah dilakukan di masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa tahun lalu.

Baru kemudian di awal pemerintahannya pada 2014, Jokowi menginstruksikan kepada Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas untuk menggodok lagi kajian pemindahan IKN.

"Sehingga dari banyak lokasi, diciutkan menjadi tiga. Kemudian diputuskan di Kalimantan Timur di Penajam Paser Utara dan Kukar karena memang ini titik paling tengah kalau kita ambil dari bagian Barat, Timur, Utara., Selatan,"

Jokowi mengatakan, pemindahan ibu kota ke Kalimantan Timur salah satunya memang karena ketersediaan lahan yang mumpuni. Namun, itu bukanlah satu-satunya alasan.

"Paling penting adalah perpindahan ini untuk pemerataan, untuk keadilan karena kita memiliki 17 ribu pulau yang 56% ada di Jawa, 156 juga populasi Indonesia ada di pulau Jawa padahal kita punya 17 ribu pulau," jelasnya.

"Kemudian juga PDB ekonomi, perputaran ekonomi 58% ada di Jawa khususnya di Jakarta. Artinya apa? Magnet ada di pulau Jawa dan Jakarta. Oleh sebab itu, harus ada magnet yang lain sehingga dari 17 ribu pulau tidak menuju ke Jawa ke Jawa ke Jawa sehingga beban pulau Jawa beban Jakarta tidak semakin berat," tegasnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Jokowi Siapkan 'Kejutan' di Ibu Kota Baru, Siapa Penasaran?


(cha/cha)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading