Miliaran Babi di China Jadi Biang Kerok Tahu-Tempe RI Langka

News - linda hasibuan & Ferry Sandi, CNBC Indonesia
28 February 2022 08:20
Pedagang tempe melayani pembeli di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Selasa (15/2/2022). Lonjakan harga kedelai global berdampal bagi industri tempe dan tahu di dalam negeri, yang didominasi skala rumah tangga.(CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Reformasi peternakan babi di China ternyata berdampak luas. Setidaknya, begitu penjelasan Kementerian Perdagangan (Kemendag) terkait masih terus tingginya harga kedelai.

Indonesia yang bergantung 80-90% pasokan kedelai impor, tentu saja terkena imbasnya langsung. Terutama, perajin tahu dan tempe di Tanah Air, yang membutuhkan sekitar 3 juta ton kedelai setiap tahunnya.


Lonjakan harga kedelai bahkan membuat perajin tahu dan tempe bersiap melakukan aksi mogok produksi. Dan, meminta izin pemerintah untuk menaikkan harga jual agar tidak diprotes konsumen.

China dilaporkan melakukan reformasi peternakan babi setelah hancur akibat wabah demam babi Afrika di kisaran pertengahan tahun 2018 dan meluas di seluruh China di tahun 2019. Wabah itu bahkan menyerang peternakan babi di dalam negeri.

Perombakan itu diperkirakan membutuhkan banyak pasokan kedelai, salah satu bahan baku pakan ternak.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan memperkirakan, pada tahun lalu pihak memperkirakan produksi kedelai di Argentina dan Brasil akan meningkat. Namun, proyeksi itu diperkirakan akan meleset.

"Nah begitu reformasi peternakan babi dibikin, SOP yang bagus maka butuh kedelai banyak untuk pakan babi. Sehingga, China ini memborong kedelainya," kata Oke Nurwan, seperti dikutip Detikfinance, beberapa waktu lalu.

"China beralih ke Amerika diborong. Kedelai kita itu untuk tahu tempe biasanya dari Amerika. Karena diborong harga melonjak, ditambah pandemi," ujarnya.

Bila melihat data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru, impor kedelai dalam setahun mencapai di atas 2 juta ton. Selama 2020 dan 2021 saja, impornya mencapai 2,4 juta ton.

Secara bulanan, realisasinya berbeda tergantung musim dan permintaan. Seperti pada Desember 2021, impor kedelai 137 ribu ton dan Januari 2022 lebih tinggi yaitu 225 ribu ton.

Berdasarkan asal negara, kedelai dipasok paling banyak dari Amerika Serikat (AS) dengan 2,1 juta ton selama 2021. Selanjutnya Kanada sebesar 232 ribu ton kedelai pada periode tersebut. Lainnya ada dari Australia, Malaysia dan Singapura.

Sementara itu, situasi ini telah membuat industri tempe dan tahu ketar ketir. Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe dan Tahu Indonesia Aip Syariuddin mengatakan 20% atau 30 ribu perajin tahu dan tempe telah setop produksi.

"Jumlah perajin tahu tempe mencapai 160 ribu yang rumahan, sekarang kurang lebih 20% atau 30 ribu perajin berhenti produksi karena kenaikan harga," kata Aip.

Menurut Aip, perajin tempe adalah industri rumahan skala kecil yang memproduksi 10 - 20 kg kedelai per hari. Mereka sangat kesulitan dengan fluktuasi harga.

Memang, untuk produsen yang menggunakan kedelai 50 - 100 kg per hari masih bisa bertahan. Meski beberapa di antaranya harus mengecilkan ukuran hasil produksi.

"Kami usulkan harga kedelai dibuat stabil, minimal untuk waktu 1 bulan meski idealnya 3 bulan. Contohnya kalau ditetapkan Rp 10.500 per kilogram harga kedelai ya berlaku satu bulan jangan range, berat kita," kata Aip.

Kondisi ini tak hanya berdampak pada industri dan perajin tempe dan tahu. Pelaku usaha di bidang warung makan/warteg pun ikut terkena imbas dari harga kedelai yang masih bergerak secara fluktuatif.

Ketua Umum Warung Nusantara (Kowantara) Mukroni mengatakan, hingga saat ini, ribuan usaha warung makan yang tergabung dalam paguyubannya belum mampu bangkit. Sejumlah tantangan diakui membebani pengusaha warteg.

Per awal tahun 2022, menurut Mukroni, setidaknya ada 4.000 warung makan skala menengah ke bawah yang tutup akibat efek domino pandemi Covid-19. Pengusaha warteg yang tutup pun beralih profesi, menjadi supir atau buruh.

Salah satu tantangan yang dihadapi adalah naiknya harga-harga pangan untuk menu masakan. Seperti minyak goreng, tempe, tahu, cabai, bahkan gula. Belum lagi, lanjutnya, kebijakan PPKM level 3 menambah tantangan tersendiri bagi pengusaha warteg.

Sebelumnya, pedagang juga harus kebingungan akibat melonjaknya harga harga daging ayam dan telur.

"Jadi ada keraguan bisa pulih lagi. Karena daging mahal, sementara daya beli turun, jadinya banyakin menu seperti tahu dan tempe. Karena terjangkau," katanya kepada CNBC Indonesia.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Duh! Stok Kedelai Cuma 2 Bulan, Pemerintah Instruksikan Ini


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading