Internasional

Inggris Sedang Krisis, Penduduk Miskin Bisa Naik 30%

News - sef, CNBC Indonesia
22 February 2022 15:00
Inggris secara resmi mengumumkan menghapus semua aturan hukum pembatasan virus corona (Covid-19). Setelah menghilangkan masker, kini kerajaan itu tak lagi mewajibkan seseorang yang terinfeksi corona melakukan isolasi mandiri (isoman) bahkan menghapus pengujian corona gratis. (AP/Matt Dunham)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rumah tangga Inggris menghadapi pukulan terbesar dalam 30 tahun terakhir. Ini akibat tingkat inflasi yang tinggi.

Januari 2022, laju inflasi mencapai 5,5% atau tertinggi sejak Maret 1992. Bahkan di April, inflasi diyakini mencapai 7%.

Mahalnya biaya di negara itu menjadi penyebab. Ini didorong tagihan energi yang melonjak.


Awal Februari ini, regulator energi Inggris, Ofgem, mengumumkan kenaikan harga gas dari pemasok akan dibebankan ke konsumen. Tarif listrik dan gas akan naik 54% ke pengguna rumah tangga.

Ini akibat pembelian gas yang tidak memiliki "kesepakatan tetap" dengan pemasok. Harga yang harus dibayar konsumen naik sebesar 693 pound menjadi 1.971 pound (sekitar Rp 38.000.000) per tahun.

Belum lagi kenaikan pajak yang sudah dilakukan tahun ini. Jutaan warga Inggris yang biasanya nyaman secara financial kini menghadapi "krisis biaya hidup".

Hal ini dirasakan Nicola Frape. Ia terpaksa mematikan pemanas dan meringkuk bersama anaknya, dengan botol air panas, tiap malam.

Membiarkan pemanas menyala akan menguras rekening banknya yang pastinya "terpukul" inflasi. Padahal pendapatan tak naik.

Tak ada lagi biaya untuk sekedar menonton bioskop. Perawat lansia berusia 38 tahun itu mengeluh sudah menghabiskan banyak uang untuk makanan dan bahan bakar (BBM).

Frape mengatakan pengeluaran untuk makanan dan bensin telah meningkat 20 pounds perminggu. Dia dan putrinya yang berumur 14 tanin, juga membatasi jalan-jalan guna menabung menghadapi "ancaman" lain di April.

"Terlalu banyak yang naik sekaligus," kata Frape sebagaimana dimuat Reuters.

"Tekanan akan semakin buruk di bulan April."

Kenaikan harga barang di Inggris dimulai saat penguncian corona (Covid-19) dibuka akhir 2021 lulu. Pulihnya sebagian dunia, sebelum munculnya Omicron, mendorong makanan hingga energi naik.

Permintaan pulih. Padahal barangnya masih kurang karena gangguan pada rantai pasokan.

Kini Frape dan serikat pekerja menuntut kenaikan gaji di atas 6,6%. Sebelumnya pemerintah menetapkan batasan itu dalam pah minimum.

Beruntung Frape datang dari kelas menengah. Rumah tangga berpenghasilan rendah di Inggris, merasakan tekanan yang lebih keras.

National Institute of Economic and Social Research (NIESR), sebuah think tank Inggris, memperkirakan bakal ada kenaikan 30% dalam kemiskinan di negara itu. Inggris sendiri merupakan negara ekonomi terbesar kelima di dunia.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Tembus 5,4% di Desember 2021, Inflasi Inggris Cetak Rekor


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading