Diskon Pajak Mobil Sumbang Ekonomi RI di Q4-2021

News - Lidya Julita Sembiring, CNBC Indonesia
07 February 2022 12:40
Sales marketing menawarkan produk mobil di Tunas Daihatsu Tebet, Jakarta, Selasa (16/6). Pandemi corona membuat angka penjualan mobil di Indonesia mengalami penurunan drastis. Penjualan mobil bulan lalu anjlok hingga 95 persen bila periode yang sama tahun 2019.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang diperoleh detikOto dari PT Astra International Tbk, pada bulan kelima tahun 2020, industri otomotif hanya mampu mengirim 3.551 unit mobil baru. Angka ini merosot 95 % dibanding bulan Mei 2019, di mana saat itu mencapai 84.109 unit. Angka ini merupakan penjualan berupa wholesales atau distribusi dari pabrik ke dealer. Seperti diketahui, banyak pabrik otomotif di Indonesia yang berhenti produksi sementara di tengah pandemi COVID-19. Wajar jika distribusinya pada Mei 2020 anjlok drastis. Adapun mengatasi penurunan banyak pabrikan otomotif  menawarkan paket penjualan khusus demi mendongkrak penjualan. Rendi selaku supervisor di Tunas Daihatsu Tebet mengatakan

Jakarta, CNBC Indonesia - Peningkatan sejumlah sub-sektor menopang pertumbuhan industri pengolahan nasional. Diantaranya, relaksasi pajak mobil, yaitu Pajak Penjualan Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM-DTP) yang turut menyumbang pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal-IV tahun 2021. 

Dimana berdasarkan lapangan usaha, industri pengolahan, di dalamnya termasuk industri otomotif, jadi sektor penyumbang terbesar bagi PDB Indonesia, yakni 18,80% di kuartal-IV tahun 2021. Industri pengolahan tumbuh 4,92% di kuartal keempat tahun lalu.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekonomi Indonesia pada kuartal-IV tumbuh 1,06%, lebih rendah dibandingkan kuartal-III yang mencapai 1,55%.


Namun, menurut Kepala BPS Margo Yuwono, grafik pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal 4 tahun 2021 berbeda dibandingkan kuartal-IV tahun sebelumnya yang biasanya terkontraksi.

Hal itu dinilai akibat pasca-lonjakan kasus Delta Covid-19 di kuartal-III tahun 2021, geliat ekonomi meningkat di kuartal-IV. Secara tahunan, pertumbuhan kuartal-IV tahun 2021 justru melonjak 5,02%, dibandingkan kuartal-III yang hanya tumbuh 3,51% secara tahunan.

BPSFoto: BPS
BPS


Selain itu, peningkatan industri logam dasar yang tumbuh cukup tinggi, yaitu 11,31% turut mendorong pertumbuhan industri pengolahan. Terutama karena peningkatan produksi timah, feronikel, dan bauksit."Industri pengolahan pada kuartal-IV tahun 2021 tumbuh 4,92% secara tahunan. Yang mendorong pertumbuhan terutama karena industri alat angkutan tumbuh 22,61% sebagai dampak insentif kebijakan pemerintah yang PPnBM," kata Margo saat keterangan pers, Senin (7/2/2022).

"Permintaan domestik tekstil dan produk tekstil hingga mendorong pertumbuhan industri naik 5,94%. Selain itu, pertumbuhan industri pengolahan didorong industri makanan dan minuman, yang tumbuh 1,29%, karena peningkatan permintaan," kata Margo.

Selain itu, ujarnya, sektor perdagangan juga menikmati dorongan pertumbuhan akibat insentif PPnBM-DTP yang memacu penjualan mobil di Tanah Air.

"Sektor perdagangan pada Q4 itu mampu tumbuh 5,56%. Faktor pendukung karena perdagangan mobil, sepeda motor, dan reparasinya tumbuh 9,21%. Ini juga didorong kebijakan insentif pemerintah yang PPnBM, sehingga mendorong peningkatan penjualan mobil," kata Margo.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Skema PPnBM Berubah, Bersiap Ada Mobil Harganya 'Terbang'!


(dce/dce)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading