Internasional

Ngeri! Rusia Kerahkan 140 Kapal Perang, Ada Apa Putin?

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
21 January 2022 06:50
Admiral Panteleyev (Tangkapan layar Militär Russian Navy)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rusia mengumumkan akan menggelar latihan militer angkatan laut, Kamis (20/1/2022). Agenda itu akan dilakukan secara besar-besaran, melibatkan semua armada dari Pasifik hingga Atlantik.

Unjuk kekuatan militer ini dilakukan di tengah panasnya hubungan Rusia dengan Amerika Serikat (AS) dan NATO soal Ukraina. Kekhawatiran akan serangan Moskow ke Kiev membuat AS dan NATO mengancam akan memberikan "bencana" ke negeri Vladimir Putin.


Mengutip Reuters, setidaknya 10.000 tentara akan turun gunung. Bukan hanya itu, 140 kapal perang dan kapal pendukung, 60 jet tempur dan 1.000 unit perangkat keras militer akan digunakan.

Dalam sebuah video yang diposting di Facebook, Rusia menunjukkan kapal selam diesel-listrik Armada Pasifik terbarunya menembakkan rudal jelajah Kalibr. Rudal itu menghantam sasaran pantai di wilayah Khabarovsk timur jauh Rusia, dari jarak lebih dari 1.000 km (620 mil).

Bukan hanya latihan militer internal, Rusia juga akan menggandeng China dan Iran untuk agenda serupa. Menurut kantor berita ISNA, yang mengutip pejabat Iran, latihan akan dilakukan Jumat.

Sebelumnya, Presiden AS Joe Biden memperingatkan rekannya Putin. Ia meminta Putin tidak melakukan serangan ke Ukraina, sebagaimana yang dikhawatirkan Barat selama ini.

Ia mengancam 'bencana' akan menunggu Rusia jika invasi terjadi. Pernyataan ini muncul setelah laporan intelijen AS terbaru menyebut Rusia akan menyerang bekas sesama Uni Soviet itu dalam waktu satu bulan.

"Ini akan menjadi bencana bagi Rusia jika mereka menginvasi Ukraina lebih jauh," tegasnya dalam konferensi pers terbarunya, Rabu (19/1/2022) sore waktu setempat.

Hubungan Rusia dengan Ukraina memanas sejak 2014. Kala itu muncul revolusi menentang supremasi Rusia.

Massa antipemerintah berhasil melengserkan mantan presiden Ukraina yang pro-Rusia, Viktor Yanukovych. Kerusuhan bahkan sempat terjadi sebelum berdamai di 2015 dengan kesepakatan Minsk.

Revolusi juga membuka kembali keinginan Ukraina bergabung dengan Uni Eropa (UE) dan NATO. Sejak 2002, Ukraina telah berusaha masuk ke NATO.

Ini, mengutip Al-Jazeera, membuat Putin marah. Karena prospek berdirinya pangkalan NATO di sebelah perbatasannya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Siaga Satu Perang Dunia 3, AS Kirim 8.500 Pasukan Lawan Rusia


(sef/sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading